Di sebuah negara ada sebuah lelucon lucu yang makin lucu ketika kita katakan berulang kali. Lelucon itu berbunyi: Jangan campur politik dan sepak bola. bagaimana tidak, di sana politik menari elok diatas sepak bola. Olahraga yang mendapat atensi lebih ketimbag bulutangkis yang jelas lebih berprestasi daripada olahraga yang dimainkan oleh 11 orang tapi diurus oleh beberapa onggok batang kayu. di Negara yang katanya "dulu kami macan asia" sepak bola tak benar diurus secara "manusia" cerita soal gaji pemain yang bahkan sampai level profesional pun tak kunjung dibayar sering kali kami lihat berkeliaran bebas di media masa. pemain yang hidup tidak seperti atlet profesional yang mana sering gampang ditemui di pub ketimbang istirahat, atau atlet yang masih memasukkan gorengan ke mulutnya dan dengan bangga mengucapkan itu di media yang ditonton. Sungguh bodoh mereka ini, mau saja mengidolai manusia seperti itu. Pemilihan ketua umum federasi bagaikan ko...