Skip to main content

Menanti Catatan Terakhir Si Emas.

(Photo by Matthew Ashton - AMA/Getty Images)
Awal Cerita si Emas
Si Emas merupakan petualang tangguh. Petualangannya selalu menorehkan catatan menarik dalam kitab perjalanannya. Emas disini merupakan arti dari bahasa Bosnia yaitu Zlato, atau mungkin orang akan paham bila menggunakan imbuhan "an" diakhir. Ya sudah tentu yang dimaksud adalah Zlatan.
Mulutmu, Zlatanmu
Si Emas dari Swedia sudah khatam dengan permainan sepakbola. Dia bukanlah pesepakbola tanpa arah. Arahnya jelas, juara. Namun yang selalu menjadi sorotan publik adalah "bacotan"nya dianggap lebih maju daripada prestasinya. Akan tetapi kami tak setuju seratus persen tentang anggapan tersebut.  Karena memang, ucapannya layak untuk ditunggu baik itu sebelum atau sesudah laga. Meskipun begitu, Si Emas tak pernah absen dalam mengangkat piala prestisius dalam setiap perjalanannya. 
Tinta Emas berawal dari Malmo
Ceritannya berawal dari sebuah kota di Swedia bernama Malmo. Zlatan muda yang berumur 18 tahun sudah bisa membuktikan bahwa dia bukanlah pemain level B, dia layak melebeli dirinya level A. Dari 40 penampilan bersama Malmo selama 2 musim, Zlatan berhasil menciptakan 16 gol. Untuk level pemain 18 tahun statistik tersebut dianggap baik.
London Tak Selamanya Indah
Bakat tersebut membawanya ke London. Datang ke London dengan status calon bintang masa depan, Zlatan justru membuat keputusan yang cukup mencengangkan. Disaat pemain lain memanfaatkan kesempatan untuk bergabung di klub sebesar Arsenal, Zlatan justru tak memanfaatkan kesempatan trial dengan baik dan memilih pulang ke Swedia. 
Perjalanan Ke Negeri Bendungan.
Langkah si Emas tak berhenti di Swedia. Gagal memikat hati Wenger, Zlatan berlabuh ke Belanda. Amsterdam merupakan langkah yang tak salah bagi pemain muda. Zlatan muda berhasil meraih piala mayor di negeri bendungan. Kegemilangan Zlatan terus berlanjut hingga Si Nyonya Tua datang memberi tawaran untuk Zlatan. 
Turin yang Plot twist.
Turin merupakan Destinasi roller coaster bagi Zlatan. Pasalnya, selain meraih piala dan melancarkannya untuk tampil reguler di tim nasional Swedia. Zlatan juga mendapatkan hadiah menarik di akhir musim 2005/2006 dari federasi sepakbola Italia. Selain meraih piala mayor bersama Juventus, Zlatan pun juga mendapatkan hadiah berupa degradasi ke Serie B. 
Dari Turin ke Lombardi
Turunnya klub asal Turin itu membuat Zlatan kabur. Dirinya memilih pergi ke Lombardi untuk bermain bersama Inter Milan. Di Inter, Zlatan meraih Serie A selama 3 musim beruntun. Tak kunjung mendapatkan Piala Champions, Zlatan memilih pergi ke Catalan. 
Barcelona tak Semanis Gambaran Fariz RM.
Kisah Zlatan memang tak selamanua manis. Di Catalan, Zlatan bukan menjadi pilihan utama bagi Guardiola. Meskipun berhasil mengalungi medali La Liga. Zlatan tetap tersingkir dari Catalan. Di musim baru dia memilih kembali ke Lombardi, masih di kota yang sama tapi beda kubu yaitu AC Milan. 
Melanjutkan Kisah di Lombardi
Kembali ke Lombardi, Zlatan berhasil mengalungi medali Serie A di akhir musim. Puasa gelar dari AC Milan terhenti setelah Zlatan datang. Si Emas memang bukan pemain sembarangan, dia hampir mendapat kalungan medali emas di setiap akhir musim. Musim kedua bersama Milan, Zlatan nilgelar. Diakhir musim Milan melepas Zlatan bersama Thiago Silva ke kota mode lain yaitu Paris. 
Milan BU, Zlatan Cabut.
Setelah meninggalkan Milan lantaran Milan sedang BU (Butuh Uang) Zlatan melanjutkan kisahnya ke Paris. PSG dibuat superior. Hingga akhirnya Ligue 1 dianggap sebagai 'Liga Petani' oleh para penggemar bola lantaran meraih gelar 4 musim secara beruntun. Gelar pencetak gol terbanyak pun juga menyertai gelar juara. Merasa Tanpa tantangan, Zlatan memilih pergi secara cuma-cuma ke Manchester.
Mourinho dan Zlatan Paket Komplit.
Kedatangan Zlatan ke Manchester bukan tanpa sebab. Mourinho lah faktor utama Zlatan pergi ke Manchester. Kolaborasi hebat Zlatan dan Mourinho berhasil menandingi kolaborasi Bondan dan Fade2Black. Piala Europa League pun berhasil mendarat mulus ke Manchester. Sayang menjelang akhir musim, kaki Zlatan salah mendarat. Lututnya cidera dan dia hanya menjadi pemandu sorak saat rekan-rekannya berjuang meraih piala. 
Zlatan Tak Lagi Sama di Manchester
Kisah indah Zlatan selesai setelah itu. Dirinya tak lagi sama. Lutut yang menjadi tumpuannya tak bisa diajak kompromi. Liga Inggris yang cenderung ketat persaingannya membuat Zlatan memilih menepi ke Negara Adidaya, Amerika. Tepatnya ke Los Angeles.
Hampir Masuk Showbiz.
Sepakbola di Amerika memanglah tidak terlalu populer. Olahraga utama disana adalah American Football dan juga Basket. Kedatangannya langsung membuat bisnis sepakbola di Amerika sedikit bergairah. Akan tetapi, Amerika bukan hanya tentang olahraga. Showbiz disana lebih menjanjikan ketimbang sepakbola. 
Zlatan kedapatan pernah nongkrong bersama James Corden dan Jimmy Kimmel di acara mereka masing-masing. Diakhir cerita LA, Zlatan justru kalah dari Carlos Vela. Pemain yang sempat ia cela di pertengahan musim. Gagal angkat piala, ia memilih kembali ke Lombardi.
Membangun kembali Milan yang Kusut.
Kembali ke Milan, Zlatan bukan tanpa misi. Datang pada pertengahan musim 2019/2020 misinya jelas, mengembalikan Milan ke Champions League. Namun kisah ini belum usai. Perjalanan Milan di Serie A demi Champions League masih tersisa 4 laga.  

Diakhir cerita, Perjalanan Zlatan selalu menarik untuk diikuti. Semua kejutan terjadi dalam perjalanan cerita karir Zlatan. Menarik ditunggu di akhir musim apakah dirinya masih mampu untuk bermain di level kompetisi tertinggi atau memilih pulang kandang dan menutup kitab perjalanannya di Swedia. 

Comments

Popular posts from this blog

STY…

mengenai bagaimana olahraga populer di bangsa ini benar benar hanya bisa dimainkan oleh si Kaya. sejak awal kedatangannya, asa itu ada. Final AFF, lolos piala asia. fase yang seharusnya dinikmati bangsa ini. Fase yang seharusnya dibarengi dengan pembinaan.  bila ada narasi “Panama saja lolos World Cup, kita lebih besar harusnya bisa” dengan dalih demikian, bolehkah saya beropini bahwa “bangsa kita lebih luas daripada Islandia dan bahkan Georgia, mengapa pemain kita begitu2 saja?”  Panama bisa lolos World Cup dengan segala kerja kerasnya, betul. untuk negara yang dikelilingi garis pantai, iklim tropis dan juga budaya sepakbola tidak seperti Indonesia, saya pikir lolosnya Panama bagaikan cerita fiksi karya JK Rowling. Kelanjutan ceritanya ditunggu banyak orang Islandia. anomali dari bangsa Viking. dikala Finlandia pemainnya bermain di tier A eropa. Di finlandia ada Jari Litmanen, Sami Hyypia. Negara tersebut belum pernah tampil di putaran final piala dunia, tapi Islandia?  ...

Polemik Balon d'Or : Prestasi, Reputasi, dan Lionel Messi

French Football salah satu media sepakbola asal Prancis memiliki agenda besar tiap tahunnya, yaitu Balon d'Or. Bila diartikan dalam bahasa Indonesia maka artinya adalah Bola Emas. Sebuah penghargaan bagi pesepakbola terbaik setiap tahunnya. Penghargaan ini termasuk bergengsi karena bisa saja menjadi pendomplang nilai pasar seorang pemain. Setiap tahunnya nama-nama beken selalu mengisi daftar nominasi Balon d'Or. Akan tetapi, belakangan penghargaan ini menuai sebuah polemik besar. Banyak perdebatan melibatkan penghargaan pemain terbaik sejagat, mulai dari indikator penilaian hingga menyudut pada satu nama pemain.  Sebenarnya tidak ada penilaian paten tentang pemain terbaik dalam Balon d'Or. Sistem voting yang melibatkan jurnalis serta kapten setiap tim nasional membuat penilaian Balon d'Or menjadi abu-abu. Tentu banyak orang berasumsi bahwa kenetralan media dipertanyakan, akan tetapi kita sebagai manusia tidak bisa mengontrol manusia lain dalam hal pilihannya terlebih ke...

Menanti Gigi Berhenti

sumber : planetfootball.com  Dalam sebuah kisah, suatu lakon pasti akan punya akhir. Akhir dari setiap lakon akan berbeda dan tak akan pernah sama, pun dengan jalan yang lakon itu tempuh. Contoh ketika lakon dalam seorang raja dalam perang bisa saja mati ketika berperang atau bisa saja lakon seperti sengkuni yang tak bisa diduga alurnya karena dia selalu bisa menghindar dari maut berkat kelihaiannya dalam menjilat. Begitu pula dalam dunia sepak bola, para pelakonnya memiliki kisahnya masing-masing dan akhir cerita yang beragam.  Pesepak bola memiliki kisah yang sama sekali tak bisa ditebak. Zinedine Zidane misalnya. Awal kariernya ditulis dengan tinta emas. Dari Cannes, bersinar di Bordeaux, matang di Juventus sampai akhirnya menyundahi semuanya di Madrid. Kemilau kebintangan Zidane terpancar kala ia bersama Didier Deschamp, Emmanuel Petit, Marcel Desaily serta Thiery Henry berhasil mengawinkan gelar dunia dan eropa pada tahun 1998 dan 2000. Selain bersinar bersama Le Bleus, R...