Dalam sebuah kisah, suatu lakon pasti akan punya akhir. Akhir dari setiap lakon akan berbeda dan tak akan pernah sama, pun dengan jalan yang lakon itu tempuh. Contoh ketika lakon dalam seorang raja dalam perang bisa saja mati ketika berperang atau bisa saja lakon seperti sengkuni yang tak bisa diduga alurnya karena dia selalu bisa menghindar dari maut berkat kelihaiannya dalam menjilat. Begitu pula dalam dunia sepak bola, para pelakonnya memiliki kisahnya masing-masing dan akhir cerita yang beragam.
Pesepak bola memiliki kisah yang sama sekali tak bisa ditebak. Zinedine Zidane misalnya. Awal kariernya ditulis dengan tinta emas. Dari Cannes, bersinar di Bordeaux, matang di Juventus sampai akhirnya menyundahi semuanya di Madrid. Kemilau kebintangan Zidane terpancar kala ia bersama Didier Deschamp, Emmanuel Petit, Marcel Desaily serta Thiery Henry berhasil mengawinkan gelar dunia dan eropa pada tahun 1998 dan 2000. Selain bersinar bersama Le Bleus, Real Madrid juga menikmati karya Zidane. Gol ikoniknya ke gawang Bayer Leverkusen mengantarkan Real Madrid meraih gelar Liga Champions ke - 9. Namun pada akhirnya, akhir karir Zidane ditutup dengan ironi pada Piala Dunia 2006. Dikala Zidane berhasil membawa Prancis unggul atas Italia berkat panenkanya, beberapa menit kemudian tandukkannya ke dada Marco Matterazi berujung kartu merah dan Prancis gagal menjadi juara dunia.
Saat Zidane menutup kisahnya dengan kartu merah, di seberangnya ada kiper yang kelak menjadi legenda hidup bagi negaranya yaitu Italia. Pada saat pagelaran Piala Dunia 2006, usia Gianluigi Buffon masih 28 tahun. Menjuarai Piala Dunia diusia emas memang pencapaian yang luar biasa bagi setiap pemain di belahan bumi manapun. Kisah karier Gigi Buffon pun juga tak kalah heroik ketimbang kisah Zidane.
Bertahan Karena Kecelakaan
Berawal dari Buffon yang berpindah posisi dari gelandang ke kiper, karena saat itu kiper di timnya mengalami cidera. Bisa dikatakan awal karier Buffon adalah sebuah kecelakaan, bahkan terpikirkan olehnya pun tidak. tapi mungkin itu jalan Tuhan terbaik baginya. berkiprah di Parma hingga mengantarkan Parma menjadi juara Liga UEFA (format lama Liga Eropa) dan juara Coppa Italia. Berhasil mengantarkan Juventus juara Liga sebanyak sebelas kali dan juara dunia bersama Italia di tahun 2006. Akan tetapi kisah Buffon tidak hanya menyoal juara dan kejayaan.
Diuji Degradasi
Kisah Buffon memang tidak selalu indah. Sepulang dari Jerman, Buffon sudah harus mengunjungi pengadilan. Kedatangan Buffon ke pengadilan adalah buntut dari kasus Calciopoli atau kasus pengaturan skor yang melibatkan timnya yaitu Juventus. Dampak dari kasus itu gelar Juventus dicabut dan didegradasi ke Serie B. Buffon yang saat itu baru saja juara dunia bersama Italia pasti bisa saja memilih untuk meninggalkan Juventus dan bermain di tim lain, tapi dia memilih untuk bertahan dan bermain di Serie B bersama Juventus dan Alessandro Del Piero. Kesetiaan Buffon dengan Juventus memang tak bisa dinilai dengan apapun. Tapi kesetiaan itu sempat berakhir kala 2018 Juventus tidak memperpanjang kontraknya dan Buffon memilih untuk berlabuh ke Paris demi menuntaskan misinya untuk juara Liga Champions Eropa atau UCL
Berkelana Di Negeri Napoleon
Buffon datang ke Paris dengan ambisi besar. Kedatangan Neymar Jr, dan Kylian Mbappe membuat Buffon berharap bisa membawa Si Kuping besar ke lemari Pialanya. Namun sayangnya ambisi besar Buffon tersebut harus musnah di Kaki Marcus Rashford. Gol Pinaltinya membuat impian PSG melaju lebih jauh sirna.
Ketika misinya Parc de Princes gagal, Buffon memilih untuk kembali ke Juventus saat skuad tersebut terdapat Mr. Champions League yaitu Cristiano Ronaldo. Meskipun setelah kedatangan CR7 juara UCL tak kunjung di raih Buffon, namun hal itu menunjukkan bahwa Buffon dan Juventus hanya dipisahkan oleh waktu. Begitu pula ketika kontraknya tidak lagi diperpanjang oleh Juventus pada musim panas 2021. Buffon justru kembali ke klub masa kecilnya yaitu AC Parma.
Reuni Dengan Parma
Buffon dan Parma bukan hanya tentang Piala dan Uang. Buffon dan Parma lebih dari itu. Mungkin bila Buffon tak bergabung ke Parma dan merubah posisinya dari gelandang ke kiper dirinya tak akan bisa mengangkat trofi Piala Dunia 2006 karena saat itu barisan gelandang Gli Azzuri cukup mewah. Bisa pula Buffon hanya akan dikenal sebagai gelandang yang biasa saja dibanding kariernya sebagai kiper. Perlu diingat bahwa Buffon berkarir saat Italia dipenuhi oleh gelandang hebat dan saat itu pula sepak bola sedang memanen gelandang. Lagi pula menjadi kiper membuat Buffon bisa bermain lebih lama lagi di lapangan. Per hari ini, Buffon baru saja memperpanjang kontraknya bersama AC Parma hingga 2024 dan membuat dirinya akan terus bermain hingga usia 46 tahun.
Perlu diingat bahwa Buffon ketika datang pertama kali ke AC Parma merupakan gelandang, setelah berjalannya waktu dirinya berkembang dan matang menjadi kiper yang hebat. Dulu kala Zinedine Zidane mengakhiri kariernya di hadapan Buffon dengan kartu merah dan tangan hampa karena kalah oleh Italia, saat ini giliran Buffon yang menanti waktu itu tiba untuk kapan dirinya akan berhenti. Atau bahkan Buffon masih belum akan berhenti hingga 10 tahun kedepan, kita tidak pernah tahu. Buffon mengajarkan kita bahwa tidak semua kisah memiliki akhir yang indah dan bisa memuaskan orang, karena kisah kita hanya kita yang bisa merasakan. Buffon memilih Parma bukan tentang uang atau apapun, Buffon berusaha untuk kembali ke rumah setelah karier hebatnya.
We'll see bagaimana cara Gigi berhenti.
Comments
Post a Comment