mengenai bagaimana olahraga populer di bangsa ini benar benar hanya bisa dimainkan oleh si Kaya.
sejak awal kedatangannya, asa itu ada. Final AFF, lolos piala asia. fase yang seharusnya dinikmati bangsa ini. Fase yang seharusnya dibarengi dengan pembinaan.
bila ada narasi “Panama saja lolos World Cup, kita lebih besar harusnya bisa” dengan dalih demikian, bolehkah saya beropini bahwa “bangsa kita lebih luas daripada Islandia dan bahkan Georgia, mengapa pemain kita begitu2 saja?”
Panama bisa lolos World Cup dengan segala kerja kerasnya, betul. untuk negara yang dikelilingi garis pantai, iklim tropis dan juga budaya sepakbola tidak seperti Indonesia, saya pikir lolosnya Panama bagaikan cerita fiksi karya JK Rowling. Kelanjutan ceritanya ditunggu banyak orang
Islandia. anomali dari bangsa Viking. dikala Finlandia pemainnya bermain di tier A eropa. Di finlandia ada Jari Litmanen, Sami Hyypia. Negara tersebut belum pernah tampil di putaran final piala dunia, tapi Islandia?
Pada 2016 membuat kejutan lolos putaran final Euro 2016 yang saatu itu pesertanya ditambah menjadi 24 tim. Sempat dianggap penghibur tapi Islandia menjadi penantang kuat di turnamen tersebut. Lolosnya mereka dianggap beruntung karena penambahan jumlah peserta, akan tetapi pada putaran final piala dunia 2018 mereka berhasil lolos. Mayoritas pemainnya bekerja paruh waktu karena sepakbola hanya dimainkan saat musim panas, bagaimana negara itu bisa lolos adalah tentang bagaimana federasinya mengurus sepakbola dengan benar.
Indonesia, ketika cerita itu dimulai di Piala Asia semua jumawa menganggap Piala Dunia layak kita mainkan. apakah mereka sadar kita melewatkan satu fase yang benar dalam sepakbola yaitu pembinaan SDM yang tepat.
Pertama, ketika kita belajar dari Panama mungkin banyak orang disini yang paham bagaimana sepakbola di dataran Amerika berjalan. Bakat yang hadir di Panama adalah bakat alam yang ditempa dengan fasilitas seadanya, kompetisi sepakbola pun menganut sistem Apertura dan Clausura, persis dengan berjalan di Liga dataran Amerika lainnya. Lantas, mengapa Panama layak mentas di Piala Dunia dan Indonesia jalan ditempat. ya, Amerika utara tempat Panama menjalankan Kualifikasi dihuni dengan negara yang sama-sama tidak kuat akar dan budaya sepak bolanya.
Jamaika? lebih terkenal dengan Bob Marleynya, selain itu sepakbola Jamaika justru bangkit belakangan ini berkat diaspora Jamaika-Inggris di tanah Britania.
Cuba? Negara dengan sistem negara ekstrim kiri ini justru tidak banyak pemain liganya dibandingkan dengan negara lain.
Trinidad Tobago? praktis hanya Dwight Yorke yang pernah bermain di top tier sepakbola eropa.
Saint Kitts and Navis? orang Indonesia justru lebih kenal dengan Keith Kayamba Gumbs ketimbang bagaimana sepakbola berjalan di negara kepulauan Karibia tersebut. Hanya Amerika, Kanada dan Mexico yang kompetitif di Concacaf.
Panama memang negara yang lolos ke kancah Piala Dunia 2018 dengan peringkat FIFA diatas 100, tapi bagaimana kiprahnya di Rusia tentu sudah disaksikan banyak mata di seluruh dunia. Lumbung Gol, hanya mencetak 1 gol dari 3 laga. lantas apakah bare minimum itu yang kita anggap "Kita lebih layak kok kalau Panama saja dulu bisa lolos"
Kedua Islandia. Islandia mungkin bisa menjadi perdebatan yang cukup serius, mengapa, karena persaingan di zona Eropa cukup ketat dengan jatah 12 tim persaingan tidak sembarangan. Di sisi lain ketika Islandia lolos ke Rusia ada satu negara besar yang absen pada pagelaran Piala Dunia yaitu Italia. Italia mengalami transisi yang luar biasa mengerikan. Bagaimana tidak, ketika sebagian besar pemain seniornya sudah di usia uzur, pelatihnya justru keras kepala dengan tetap membawa para senior dan justru gagal total. Selain Italia ada juga Belanda yang absen ke Rusia, yaaah yaudah lah ya Belanda tidak sekali ini gagal ke Piala Dunia, lagian ngapain mereka ke sana wong ya mentok final habis itu ga ngapa ngapain, juara engga, malu maluin iya.
Faktor absennya negara besar Italia dan negara biasa saja seperti Belanda membuat tim seperti Islandia dengan semangat membara bisa lolos ke Rusia. sebenarnya, tanpa absennya Italia dan Belanda Islandia berada di jalur yang benar, karena disaat itu beberapa pemainnya berhasil menembus liga tier A, yang sudah jelas adalah Gylfie Sigurdsson beberapa musim namanya ada di sepak bola Inggris.
Mari kita berkaca dengan Indonesia.
Fase lolos zona Asia itu adalah fase terpanjang, menyulitkan dan melelahkan. Indonesia pernah hingga round terakhir kualifikasi Piala Dunia dan itu terjadi di tahun 1985. kalah dari Korsel saat itu yang terdapat Cha Bum Kun yang di tahun itu sudah bermain di Bayer Leverkusen. Pun Indonesia juga pernah menjadi aib kualifikasi dibantai oleh Bahrain 10-0 saat timnas terdapat dualisme, siapa pelaku dualismenya kita harus berani tunjuk hidung bahwa orang orang di federasilah yang melakukan itu.
Lantas, ketika timnas dianggap sudah berada di track yang benar, Kita berbicara timnas, jangan berbicara sepakbola Indonesia, karena itu hanya omong kosong belaka. Kenapa selalu ada berita tentang pergantian pelatih kepala. Apa tujuan PSSI selalu melempar bola panas ketika semua sedang baik baik saja. Bila mana apapun yang dicapai oleh STY hanyalah sepele, kenapa tidak sejak putaran pertama saja diberhentikan. kedua, saya hanya penasaran Naturalisasi itu murni langkah federasi, atau pelatih meminta grade A, kemudian federasi berkata "Oh pemain liga kita tarkam, mending kita ambil dari Belanda saja bagi Indonesia itu Grade A" kenapa Federasi tidak berbenah saja, memperbaiki liga dari dasar hingga akhirnya Indonesia memiliki database lengkap tentang semua pemain. Apakah memang benar, semua yang ada di Federasi adalah bekas anak Mama yang selalu disuapi dengan kekayaan lalu ketika bekerja hingga roots saja mereka tak mau?
Oke, berhentilah melempar bola panas ke Publik. Berhenti menyalahkan tim kepelatihan, karena semua capaian yang dilakukan oleh tim kepelatihan Indonesia lebih dari kata luar biasa hebat. Lolos ke putaran final Piala Asia, hingga gugur kalah dari Australia di fase 16 besar untuk negara yang terakhir lolos lewat jalur kualifikasi tahun 2004 adalah luar biasa. Ronde 3 Piala Dunia untuk negara yang tertidur lama, bahkan pernah STY stress karena harus mengajarkan dasar ke para pemain itu sudah capaian yang sebenarnya harus disyukuri semua belah pihak dan apabila Indonesia gagal, toh kita harus angkat topi dan memberikan Guard Of Honor kepada STY atas pencapaiannya.
Kita boleh saja bermimpi untuk bermain di Piala Dunia, wajar dan normal. Tapi apa iya kita ke Piala Dunia hanya membawa kepala tanpa kaki yang kuat? Lolos sekali saja dan hanya dijadikan komoditi politik 2029, memangnya mau.
Oh iya, kepada legenda yang menyatakan bahwa "Ya bawa juara saja, toh kalau juara kita suruh milih kita mau" maaf pernyataan anda seolah tidak sadar bahwa grassroot kita tidak jalan, liga tidak bergulir sepantasnya, dan menunjukkan bahwa pengetahuan anda sedangkal skill anda yang tidak kemana mana itu.
Benahi Grassroots, Benahi liga, Regulasi Jelas, Profesionalisme di Klub, Baru kita berbicara Piala Dunia, itu bukan PR STY, tapi PR PSSI.
Pak, lantas kebutuhan apa yang harus dipenuhi ketika kita sudah terlanjur dihadapkan dengan kesempatan masuk di piala dunia ?, apakah memungkinkan federasi, Liga dll, yang sudah disebutkan diatas mampu dibenahi dikala uforia piala dunia semakin dekat ? Lalu apa yang harus dilakukan PSSI untuk kembali membangkitkan uforia sepakbola, tentu kita tau sepakbola merupakan olahraga yang paling populer di Indonesia, yang pada saat ini sentimenya ialah “Indonesia belum pantas untuk masuk piala dunia”, dengan membuat situasi masyarakat yang berharap Indonesia bisa perpeluang masuk terlepas dari konsekuensi yang mengakibatkan statement masyarakat menjadi overanalize dan overpatriotic kalu menurut saya dalam hal ini memang ada perspective yang diambil oleh PSSI untuk membuat situasi ini terjadi, but….saya sangat amat setuju dengan tulisan anda diatas good job
ReplyDeleteAda ucapan bahwa jika sudah terlanjur basah, maka teruslah berenang semampunya. Terkadang garis finish hanya akan dicapai oleh mereka yang mampu dan layak untuk menyentuhnya.
DeleteMemperbaiki liga ditengah euforia tentu sangat bisa dan mampu, tinggal mau atau tidak. Liga dan lolos piala dunia adalah dua faktor yang berbeda namun saling berkaitan. Muara dari liga adalah timnas, maka bila ingin memperbaiki timnas maka perbaiki lah liganya hingga level grassroot. Karena memperbaiki liga bukanlah sulapan, tapi bila liga itu stabil dan sustain maka muara ke piala dunia cepat atau lambat akan tercapai.
Sudut pandang PSSI memang tidak salah, tapi berkaca dari situasi dan yang disampaikan pelatih ke media bahwa beliau mengajarkan sepakbola hingga ke fundamental berarti selama ini ada yang salah dengan pembinaan? Kenapa tidak fokus ke pembenahan fundamental itu ketimbang mengimpor pemain dari eropa? Target dan tujuan apa yang sebenarnya dikejar oleh PSSI dan ketumnya?