Skip to main content

Romansa Dari Tanah Bergamo

wahai Pasalic, mulut anda bau


Ditemani dengan seabrek pekerjaan, kami berusaha untuk bercerita tentang romansa kami. Ya, Romansa Gubol atau gurau bola. Kami dipertemukan dalam sebuah universitas dan hobi yang sama. Yaitu sepakbola. 
Mungkin beberapa orang berasumsi bahwa ketika kami berkumpul hanya sepakbola yang kami bahas. Tentu saja asumsi itu salah, karena tak jarang kami membahas soal wanita. Teman wanita kami sering jadi bahan omongan kala kami sedang bergurau. 
Semalam kami baru saja bertemu virtual dan kami saling mengolok satu sama lain. Tapi ya begitulah kami, kata baper atau bawa perasaan seolah hilang begitu saja meskipun umpatan sering kita keluarkan untuk mengolok satu sama lain. 
Akan tetapi, kisah kami tak selamanya indah. Kami pernah berada di titik nadir, titik yang tak pernah kami bayangkan. Ya, harapan awal komunitas kami bisa menjangkau nasional seolah pupus ketika kita berada dititik itu. Hanya saja, ada satu harapan kala kami berbicara soal satu tim sepakbola.
Tim sepakbola yang belakangan ini menjadi buah bibir di media olahraga. Kami akan asyik ketika membahas itu. 
Atalanta Bergamo namanya. 
Gasperini Bagai Pak Tarno
Tidak, itu tidak berlebihan. Justru itu kurang. Mengapa ? Menggambarkan Gian Piero Gasperini mungkin tak cukup hanya satu bait. Kami selalu membahas beliau dari segala sudut pandang. Tapi Gasperini selalu menjadi tajuk utama ketika obrolan soal Atalanta Bergamo muncul di grup kami. 
Pak Tarno dengan sulapnya memasukkan barang yang entah berwujud apa akan muncul kelinci, atau barang lain. Seperti halnya Pak Tarno, Gasperini memasukkan pemain yang dianggap biasa bisa menjadi luar biasa.
Dua musim lalu kala orang-orang masih membicarakan soal Inter-AC Milan atau Juventus-Napoli. Gasperini dan Atalanta secara mengejutkan berada di peringkat 4. Zona Liga Champions kalau orang jurnalis berbicara. 
Dengan modal pemain yang bisa dikatakan kualitas kedua, tapi Gasperini bisa mengejutkan kita semua. Sebelumnya Atalanta hanyalah tim yang hilir mudik dari Serie A ke Serie B. Bahkan semua orang tidak akan terkejut ketika melihat hasil klasemen saat tahu Atalanta akan degradasi. Tapi anggapan itu hilang ketika tongkat kemudi berada di Gasperini.
Figur Itu Bernama Papu Gomez.
Selain bergurau soal Gasperini kami selalu menilik lagi cara Atalanta bermain. Mereka selalu kompak, bermain sesuai irama yang diharapkan oleh Gasperini. Irama itu akan nampak indah ketika Alejandro Dario Gomez menjadi pusat. 
Tak usah pusing, itu adalah nama lengkap Papu Gomez. Bercerita soal Papu Gomez, janganlah beranggapan dia pemain yang istimewa. Dia tak punya CV mentereng. Bahkan bisa dikatakan "ini pemain dari mana?". 
Papu memanglah bukan pemain dengan catatan CV yang bagus, bahkan sebelum bergabung dengan Atalanta, dia hanya bermain untuk Metalist di Ukraina dan Catania di Italia. Tak ada Barcelona dan Real Madrid di CV nya. Tapi Gasperini tak memusingkan itu. 
Dibawah irama yang berpusat pada Papu, semua pemain seiya sekata dengannya. Praktis Liga Champions Eropa musim kemarin bisa jadi puncak karir dari seorang Papu Gomez. Bagaimana tidak, Atalanta dibawanya hingga ke fase 8 besar. Sangat amat menakjubkan mengingat itu adalah musim pertamanya di kompetisi tertinggi Eropa. Itu membuktikan selain irama yang dibentuk Gasperini, Papu memegang sosok sentral dalam irama tersebut. Di akhir musim ketika datang tawaran dari timur tengah dirinya menolak karena Gasperini masih memberi kepercayaan pada Papu.
Menghidupkan Mario Pasalic 
Sebelumnya, Pasalic adalah pemain Chelsea yang terkenal akan peminjaman. Dia terus berpindah hingga menunggu kepastian kapan Chelsea memakainya.
Namun ketika dia bertemu Gasperini, dirinya seolah menjadi pemain penting selain Papu. 
Pasalic merasa hidup bersama Atalanta, bahkan hingga statusnya akan dipermanenkan oleh Atalanta, Chelsea seolah pasrah. Ya mau bagaimana, perjanjiannya kalau mau mempermanenkan ya silahkan, kalau tidak ya kembali ke Chelsea, dan Atalanta pun mengiyakan. Pasalic termasuk dalam proyek ambisius Gasperini.
Di musim keduanya, hampir saja Atalanta menjadi juara kalau tidak terpeleset di Turin dan Milan.
Josip Ilicic Bagai Singa 
Selain Pasalic dan Papu, ada nama lain yang menjadi pusat perhatian. Josip Ilicic namanya. Usianya memang sudah tidak muda lagi, tapi Gasperini bisa membuatnya bagaikan singa yang bangun dari tidur. 
Dulu Ilicic bisa dikatakan penyerang yang biasa saja, tak ada istimewanya. Akan tetapi kala dia bermain dan berduet dengan Duvan Zapata atau Luis Muriel dia bisa lebih berhaya daripada seekor singa. Ditopang dengan Papu, Pasalic serta si konyol Marten De Roon dia bisa leluasa untuk bermain di depan. 
Sosok Joker Dalam diri De Roon
Akan kami jelaskan mengapa kami menganggap De Roon sebagai Joker. Dia bukanlah orang baik yang tersakiti. Bukan, dia justru menertawakan dirinya sendiri ketika ada momen konyol di dalam pertandingan. 
Sudah dipastikan De Roon adalah sosok pencair suasana dalam ruang ganti Atalanta. De Roon juga bukanlah pemain istimewa, bahkan tim yang dibelanya terkadang degradasi. Bisa bertahan di kompetisi level atas mungkin De Roon akan rajin ke gereja dan bertanya pada Tuhan "Ini Serius tim saya bertahan, biasanya degradasi" Middlesbrough contohnya. Baru semusim dibelanya lalu degradasi lagi. Untung saja ketika bertemu Gasperini dia menjadi pemain yang lebih baik. 
Sosok seperti Marten De Roon memang sangat dibutuhkan untuk tim seperti Atalanta. Mungkin saat teman-temannya sedang punya masalah pribadi, De Roon siap datang dengan stok meme yang banyak di ponselnya. 

Kami tak bisa berbicara lebih banyak soal Gasperini, Papu Gomez, Mario Pasalic, Josip Ilicic atau bahkan si Konyol Marten De Roon. Tapi kami selalu menunggu bagaimana kelanjutan dari proyek Gasperini. Praktis (per hari ini) hanya Timoty Castagne yang pindah dari Atalanta. Harapan kami besar kepada Gasperini, kami sangat berharap Gasperini dan Atalanta berhasil membawa Piala Serie A ke Bergamo. 

Mari siapkan semua peralatan pesta, dan juga stok meme dari Marten De Roon karena kami siap berpesta di tanah yang membangkitkan gairah kami, yaitu Bergamo! 

Comments

Popular posts from this blog

STY…

mengenai bagaimana olahraga populer di bangsa ini benar benar hanya bisa dimainkan oleh si Kaya. sejak awal kedatangannya, asa itu ada. Final AFF, lolos piala asia. fase yang seharusnya dinikmati bangsa ini. Fase yang seharusnya dibarengi dengan pembinaan.  bila ada narasi “Panama saja lolos World Cup, kita lebih besar harusnya bisa” dengan dalih demikian, bolehkah saya beropini bahwa “bangsa kita lebih luas daripada Islandia dan bahkan Georgia, mengapa pemain kita begitu2 saja?”  Panama bisa lolos World Cup dengan segala kerja kerasnya, betul. untuk negara yang dikelilingi garis pantai, iklim tropis dan juga budaya sepakbola tidak seperti Indonesia, saya pikir lolosnya Panama bagaikan cerita fiksi karya JK Rowling. Kelanjutan ceritanya ditunggu banyak orang Islandia. anomali dari bangsa Viking. dikala Finlandia pemainnya bermain di tier A eropa. Di finlandia ada Jari Litmanen, Sami Hyypia. Negara tersebut belum pernah tampil di putaran final piala dunia, tapi Islandia?  ...

Menanti Gigi Berhenti

sumber : planetfootball.com  Dalam sebuah kisah, suatu lakon pasti akan punya akhir. Akhir dari setiap lakon akan berbeda dan tak akan pernah sama, pun dengan jalan yang lakon itu tempuh. Contoh ketika lakon dalam seorang raja dalam perang bisa saja mati ketika berperang atau bisa saja lakon seperti sengkuni yang tak bisa diduga alurnya karena dia selalu bisa menghindar dari maut berkat kelihaiannya dalam menjilat. Begitu pula dalam dunia sepak bola, para pelakonnya memiliki kisahnya masing-masing dan akhir cerita yang beragam.  Pesepak bola memiliki kisah yang sama sekali tak bisa ditebak. Zinedine Zidane misalnya. Awal kariernya ditulis dengan tinta emas. Dari Cannes, bersinar di Bordeaux, matang di Juventus sampai akhirnya menyundahi semuanya di Madrid. Kemilau kebintangan Zidane terpancar kala ia bersama Didier Deschamp, Emmanuel Petit, Marcel Desaily serta Thiery Henry berhasil mengawinkan gelar dunia dan eropa pada tahun 1998 dan 2000. Selain bersinar bersama Le Bleus, R...