Seminggu terakhir penulis kegirangan bukan main. Bukan karena jeda internasional sudah berakhir, akan tetapi lantaran dapat menemui wanita yang cukup menganggu pikirannya. Namun tetap saja penulis masih berusaha untuk membuka pembicaraan dengan wanita tersebut. Ah, memang dasar penulis kami ini agak cupu bila berhadapan dengan wanita. Akan tetapi lain cerita perkenalannya dengan Si Kulit Bundar atau bahasa Norwegianya adalah Bal-Balan.
Sebuah cerita berawal dari sebuah kecelakaan, nope bukan kecelakaan yang melibatkan kendaraan bermotor tapi kecelakaan bermakna kiasan. Penulis berkenalan dengan sepakbola lantaran hidup di lingkungan yang hampir semua keluarganya menggemari sepakbola. Mulai dari ayah, ibu, paman serta neneknya pun terkadang ikut nimbrung kala penulis menonton sepakbola bersama kudapan kesenangannya yaitu chikiball. Sayangnya kecelakaannya tidak hanya sekali dua kali, namun berulang kali dirinya kecelakaan dengan sepakbola.
Berawal dari kecelakaannya menonton EURO 2004. Saat itu bocah berumur 8 tahun lazimnya bersahabat dengan buku, namun anak itu berbeda. Kala anak lain mengerjakan pekerjaan rumah atau hanya sekedar membaca, saya menonton pertandingan sepakbola. Hingga akhirnya partai final pun ditontonnya dan ia menangis lantaran gol Angelos Charisteas menjebol gawang Portugal yang dijaga oleh Ricardo.
Namun kenangan EURO 2004 tak dapat hilang begitu saja dari ingatan saya. Dimana saat itu anak berumur 8 tahun masih menghapalkan atau justru sedang belajar membaca, anak itu malah sudah bisa berbicara tentang "Bola Daerah", "Umpan terobosan","freekick langsung" "bermain wancu" (sebenarnya maksudnya one-two atau bahasa masa kini ya wall pass) atau bahkan "di atas kertas". Kalimat yang sangat awam didengar oleh anak berumur 8 tahun. Bahkan dia pernah berbincang dengan gurunya di lapangan sepakbola "Pak, di atas kertas tim kita menang pak", gurunya pun menjawab sambil tersenyum "koe Ki dong opo to le".
Semua kecelakaan dan makna kiasan dari anak tersebut tak serta Merta datang begitu saja. Dahulu kala sepakbola di media mainstream sangatlah ramah kepada anak. Ya, saya tidak hiperbola. Dahulu kala kami bisa mengetahui istilah sepakbola karena komentator sangatlah memberikan edukasi kepada pemirsanya.
Saya ingat betul kala Alm. Ricky Johannes memandu pertandingan dan kalimat "Salam Olahraga" antusias saya meningkat. Setelah itu prediksi dan ngobrol taktikal sebelum pertandingan pun menggunakan bahasa yang mudah dicerna oleh pikiran anak-anak. Betapa kami generasi anak yang menyaksikan EURO 2004 dan liga - liga di Eropa saat itu merindukan mendiang Ricky Johannes.
Akan tetapi komentator idola kami tidak hanya Ricky Jo. Bung Tris Irawan pun memandu pertandingan dengan sama baiknya. Bahasanya lugas, makna kiasan yang digunakan pun tidak sampai menyinggung hal di luar lapangan. Kehadiran komentator bagi kami adalah media edukasi. Saat itu yang mana kami dicekoki pelajaran, akhir pekan merupakan pelampiasan untuk belajar tentang sepakbola.
Sosok Bung Tris dan Alm. Bung Ricky Jo beriringan dengan munculnya presenter muda yang kala itu memandu Piala Dunia 2006, siapa lagi kalau bukan Darius Sinathrya. Darius pun sama, menjelaskan sepakbola secara taktikal dan mampu diterima dengan baik oleh audiensnya. Makna kiasan yang digunakan pun juga tidak jauh dengan lingkup sepakbola.
Semua menikmati bahkan merindukan momen-momen menyaksikan pertandingan era awal 200an. Kala bahasa yang digunakan oleh komentator adalah bahasa yang ramah akan telinga penonton. Makna kiasan pun juga masih dalam lingkup yang aman dan mudah dicerna oleh pemirsa sepakbola. Bahkan nalar seorang bocah pun paham betul tentang apa yang dibicarakan oleh para komentator.
Lalu belakangan ini muncul gerakan membisukan komentator masal di televisi. Hal itu berawal dari akun media sosial salah satu klub sepakbola di Indonesia yang menganggap komentator hiperbola dalam mengomentari jalannya pertandingan.
Kami tidak menuntut komentator berbicara dengan bahasa baku, tidak. Kami tidak menuntut komentator membahas taktikal dari awal sampai akhir, tidak. Kami pun juga tidak meminta komentator untuk menjelaskan beberapa kali pemain tersebut menyentuh bola, juga tidak. Kami hanya mengharapkan kalau komentator bisa memberikan informasi terhadap jalannya pertandingan dengan bahasa yang mudah dicerna oleh pikiran. Sedikit keluar konteks tak apalah asalkan porsinya masih berimbang. Kami juga tak pernah mempermasalahkan atas bahasa apa yang digunakan oleh para komentator, asalkan pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik maka kami akan sepakat dengan hal itu.
Akan tetapi jangan pernah beranggapan bahwasannya penonton hanyalah market yang bisa dipermainkan begitu saja oleh pemegang hak siar. Apakah salah jika kami mengkritik atas apa yang diberikan media lantaran menggunakan frekuensi publik? Lantas apakah karena kepopuleran lalu komentator berasa tebal telinga?
Kami bukan bermaksud untuk memutus rezeki seseorang, tidak. Kami tidak ada maksud untuk membiarkan seorang menjadi pengangguran, juga tidak. Kami juga tidak berharap pertandingan sepakbola anyep-anyep saja, apalagi. Kami hanya ingin lebih banyak muatan informasi dalam komentator. Hiburan pun juga kami butuhkan.
Lalu ada yang beranggapan bahwa
"Kalau mau informasi, baca saja buku"
Oh maaf saya kurang sepakat dengan itu, karena tidak semua orang bisa menyerap apa yang ada di buku.
"Lalu apa bedanya dengan mendengarkan, kan tidak semua orang juga bisa menyerap informasi dengan baik"
Setidaknya kalau mendengar itu lebih bijak dan apabila menggunakan bahasa yang ramah akan telinga bisa sampai informasinya. Bukankah begitu?
Ah, mungkin tulisan saya ini hanya akan berada di blog ini. Yah kalau misalkan sepakat, silahkan isi kolom komentar dengan pendapat sahabat semua.
Terakhir,
Salam Olahraga.
Comments
Post a Comment