Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2021

Kebanggaan Yang Tak Kunjung Pulang

Selalu ada cerita tentang sebuah kebanggaan. Kebanggaan tentang sepak bola bukanlah perkara menang dan kalah, tapi kebanggaan akan terasa apabila semua itu terasa dekat dan dapat dipeluk dengan hangat, Tapi ini tidak dengan PSS Sleman. PSS kapan pulang? Terdengar pertanyaan itu dari sudut perbatasan kabupaten sleman, deru suara motor bersaut-sautan bendera hijau putih hitam dikibarkan, ya mungkin hari itu hari yang ditunggu-tunggu oleh seluruh pencinta sepakbola sleman, dari seluruh penjuru kabupaten sleman fans berbondong-bondong menuju prambanan untuk menjemput kebanggaan mereka yang telah lama pergi yaitu PSS Sleman, gejolak kebahagiaan seakan-akan tidak bisa dibendung lagi di hari itu. Anak-anak hingga orang tua rela meninggalkan sekolah dan pekerjaannya. tidak peduli hujan atau panas, tidak peduli jarak berpuluh-puluh kilo yang harus ditempuh demi mengawal kebanggan tercinta. Sesuai kesepakatan dengan suporter, manajemen bersedia memulangkan PSS kurang lebih pukul 9 pagi tetapi...

Ribut Di Bumi Sembada

PSS kami sedang memiliki masalah yang runyam. Dimulai dari carut marut antara manajemen dan suporter, serta permasalahan di dalam tubuh manajemen itu sendiri, seakan tidak ada sudah-sudahnya permasalahan di tim PSS kami. Permasalahan komunikasi di intern PSS menjadi awal dari semua masalah ini, bermula dari penyebutan "diluar ekosistem pss" oleh PR media PSS sampai dengan puncak masalah yang dibuat oleh Dirut PT PSS tentang pemindahan homebase PSS, manajemen seolah-olah terpecah menjadi dua yang menyebabkan komunikasi antar manajemen menjadi kacau. Manajemen sepenuhnya harus bertanggungjawab atas kekisruhan yang terjadi, sebenarnya bukan hal yang sulit untuk menghentikan kekacauan yang terjadi, dengan mengabulkan tuntutan yang dilayangkan oleh sleman fans masalah ini akan segera selesai, tetapi manajemen malah membual dan membuat omong kosong belaka seakan menyepelekan tuntutan dari sleman fans. Yang menurut saya menjadi puncak dari segala komedi manajemen, bukannya memenuhi ...

Menerka Pola Pikir Si TInkerman

Awal oktober lalu Watford memecat pelatihnya yaitu Xisco Munoz. Tentu menjadi kabar yang biasa saja bagi kawan media karena bukan Ole atau Manchester United. Akan tetapi dua hari berselang, pengumuman soal pengganti Munoz pun muncul. Bukan Harry Redknapp, atau Sam Alardyce pelatih spesialis tim semenjana melainkan Claudio Ranieri.  The Tinkerman media inggris memanggilnya. Bukan sebuah pujian melainkan sindiran kepada Ranieri. Sindiran itu muncul lantaran Ranieri kerap merotasi skuad utamanya. Jelas hal itu bertolak belakang dengan pepatah dalam sepak bola "Don't change the winning team". Tapi Ranieri seolah tak peduli dengan sindiran itu, toh hal itu sudah dilakukannya jauh sebelum menangani Chelsea medio 2000 - 2004. Saat nama seperti Tore Ander-Flo, Gianfranco Zola hingga Emmanuel Petit mengisi skuadnya dia tetap pada pendiriannya Rotasi. Ranieri beralasan bahwa keterlibatan Chelsea dibeberapa kompetisi hingga umur Zola yang tidak muda membuatnya sering melakukan rotas...