Skip to main content

Kebanggaan Yang Tak Kunjung Pulang

Selalu ada cerita tentang sebuah kebanggaan. Kebanggaan tentang sepak bola bukanlah perkara menang dan kalah, tapi kebanggaan akan terasa apabila semua itu terasa dekat dan dapat dipeluk dengan hangat, Tapi ini tidak dengan PSS Sleman. PSS kapan pulang? Terdengar pertanyaan itu dari sudut perbatasan kabupaten sleman, deru suara motor bersaut-sautan bendera hijau putih hitam dikibarkan, ya mungkin hari itu hari yang ditunggu-tunggu oleh seluruh pencinta sepakbola sleman, dari seluruh penjuru kabupaten sleman fans berbondong-bondong menuju prambanan untuk menjemput kebanggaan mereka yang telah lama pergi yaitu PSS Sleman, gejolak kebahagiaan seakan-akan tidak bisa dibendung lagi di hari itu. Anak-anak hingga orang tua rela meninggalkan sekolah dan pekerjaannya. tidak peduli hujan atau panas, tidak peduli jarak berpuluh-puluh kilo yang harus ditempuh demi mengawal kebanggan tercinta. Sesuai kesepakatan dengan suporter, manajemen bersedia memulangkan PSS kurang lebih pukul 9 pagi tetapi euforia kebahagiaan itu berumah menjadi kesedihan, hingga jam 1 siang pun belum terlihat batang hidung para punggawa super elja. Tersebar berita bahwa manajemen batal membawa super elja pulang ke bumi sembada kesedihan pun berubah menjadi gejolak emosi yang membara, kabar dari solo terjadi perdebatan besar antara pemain dan manajemen sehingga menjadi terpecah menjadi dua kubu sepuluh pemain PSS sepakat untuk kembali ke sleman tetapi manajemen bersikukuh untuk tidak memulangkan PSS dengan mengancam memecat pemain tersebut. Kami yang awalnya sangat bersemangat menunggu datangnya sang punggawa PSS menjadi lemas dan tak berdaya, diraut wajah kami hanya ada rasa kekecewaan kepada manajemen, sedih? Pasti kesal? Pasti tetapi kami tidak bisa berbuat apa-apa, PSS dan kami sekarang dihalangi oleh tembok besar. sejatinya kami hanya ingin melepas rindu atas kebanggaan kami yang sudah lama tidak pulang. Walau lelah kami takkan menyerah!!!

Comments

Popular posts from this blog

STY…

mengenai bagaimana olahraga populer di bangsa ini benar benar hanya bisa dimainkan oleh si Kaya. sejak awal kedatangannya, asa itu ada. Final AFF, lolos piala asia. fase yang seharusnya dinikmati bangsa ini. Fase yang seharusnya dibarengi dengan pembinaan.  bila ada narasi “Panama saja lolos World Cup, kita lebih besar harusnya bisa” dengan dalih demikian, bolehkah saya beropini bahwa “bangsa kita lebih luas daripada Islandia dan bahkan Georgia, mengapa pemain kita begitu2 saja?”  Panama bisa lolos World Cup dengan segala kerja kerasnya, betul. untuk negara yang dikelilingi garis pantai, iklim tropis dan juga budaya sepakbola tidak seperti Indonesia, saya pikir lolosnya Panama bagaikan cerita fiksi karya JK Rowling. Kelanjutan ceritanya ditunggu banyak orang Islandia. anomali dari bangsa Viking. dikala Finlandia pemainnya bermain di tier A eropa. Di finlandia ada Jari Litmanen, Sami Hyypia. Negara tersebut belum pernah tampil di putaran final piala dunia, tapi Islandia?  ...

Menanti Gigi Berhenti

sumber : planetfootball.com  Dalam sebuah kisah, suatu lakon pasti akan punya akhir. Akhir dari setiap lakon akan berbeda dan tak akan pernah sama, pun dengan jalan yang lakon itu tempuh. Contoh ketika lakon dalam seorang raja dalam perang bisa saja mati ketika berperang atau bisa saja lakon seperti sengkuni yang tak bisa diduga alurnya karena dia selalu bisa menghindar dari maut berkat kelihaiannya dalam menjilat. Begitu pula dalam dunia sepak bola, para pelakonnya memiliki kisahnya masing-masing dan akhir cerita yang beragam.  Pesepak bola memiliki kisah yang sama sekali tak bisa ditebak. Zinedine Zidane misalnya. Awal kariernya ditulis dengan tinta emas. Dari Cannes, bersinar di Bordeaux, matang di Juventus sampai akhirnya menyundahi semuanya di Madrid. Kemilau kebintangan Zidane terpancar kala ia bersama Didier Deschamp, Emmanuel Petit, Marcel Desaily serta Thiery Henry berhasil mengawinkan gelar dunia dan eropa pada tahun 1998 dan 2000. Selain bersinar bersama Le Bleus, R...

Romansa Dari Tanah Bergamo

wahai Pasalic, mulut anda bau Ditemani dengan seabrek pekerjaan, kami berusaha untuk bercerita tentang romansa kami. Ya, Romansa Gubol atau gurau bola. Kami dipertemukan dalam sebuah universitas dan hobi yang sama. Yaitu sepakbola.  Mungkin beberapa orang berasumsi bahwa ketika kami berkumpul hanya sepakbola yang kami bahas. Tentu saja asumsi itu salah, karena tak jarang kami membahas soal wanita. Teman wanita kami sering jadi bahan omongan kala kami sedang bergurau.  Semalam kami baru saja bertemu virtual dan kami saling mengolok satu sama lain. Tapi ya begitulah kami, kata baper atau bawa perasaan seolah hilang begitu saja meskipun umpatan sering kita keluarkan untuk mengolok satu sama lain.  Akan tetapi, kisah kami tak selamanya indah. Kami pernah berada di titik nadir, titik yang tak pernah kami bayangkan. Ya, harapan awal komunitas kami bisa menjangkau nasional seolah pupus ketika kita berada dititik itu. Hanya saja, ada satu harapan kala kami berbicara s...