Awal oktober lalu Watford memecat pelatihnya yaitu Xisco Munoz. Tentu menjadi kabar yang biasa saja bagi kawan media karena bukan Ole atau Manchester United. Akan tetapi dua hari berselang, pengumuman soal pengganti Munoz pun muncul. Bukan Harry Redknapp, atau Sam Alardyce pelatih spesialis tim semenjana melainkan Claudio Ranieri.
The Tinkerman media inggris memanggilnya. Bukan sebuah pujian melainkan sindiran kepada Ranieri. Sindiran itu muncul lantaran Ranieri kerap merotasi skuad utamanya. Jelas hal itu bertolak belakang dengan pepatah dalam sepak bola "Don't change the winning team". Tapi Ranieri seolah tak peduli dengan sindiran itu, toh hal itu sudah dilakukannya jauh sebelum menangani Chelsea medio 2000 - 2004. Saat nama seperti Tore Ander-Flo, Gianfranco Zola hingga Emmanuel Petit mengisi skuadnya dia tetap pada pendiriannya Rotasi. Ranieri beralasan bahwa keterlibatan Chelsea dibeberapa kompetisi hingga umur Zola yang tidak muda membuatnya sering melakukan rotasi.
Sisi koin yang berbeda
Budaya ngopi di pagi hari khas itali tak luput dari seorang Ranieri. Di sudut kota Roma kala semua berjalan bagai dunia sudah berakhir, tapi hal itu berbanding terbalik kala ponsel Ranieri berbunyi. Sang agen menghubunginya dengan penawaran yang sejatinya biasa saja, tak ada yang istimewa hanya sebuah klub Semenjana yang nyaris degradasi. Leicester City lah klub itu.
Dunia bak hancur setelah pemecatan dari negeri para dewa. Pemecatan tersebut cukup masuk dalam logika pecinta sepak bola. Bagaimana bisa negara sekelas Yunani yang pernah berjaya di Portugal kalah dengan negara yang dianggap tak punya sepak bola kuat seperti Kepulauan Faroe. Karirnya seolah tamat, semua selesai. Yunani gagal, dan Ranieri pun dianggap pelatih yang tak ada keistimewaannya.
Lalu, yang benar saja Ranieri menangani Leicester City. Garry Lineker merupakan legenda yang melekat dengan Leicester pun menganggap bahwa Ranieri sama halnya dengan pelatih medioker lainnya. Anggapan sinis itu berdasar pada capaian Ranieri yang terkesan biasa saja, kegagalan sering menaungi dirinya. Seperti paragraf di atas, bawa Yunani lolos EURO 2016 saja tak mampu apalagi melatih di Liga Inggris.
Namun dongeng dimulai disini. Saat orang tak berekspektasi lebih pada Ranieri, justru dirinya memberikan lebih dari itu. Mengakhiri musim pertamanya dengan lolos dari jurang degradasi, Leicester dan Ranieri berubah seperti seekor rubah yang siap memangsa lawannya di musim berikutnya.
Kebiasaan Ranieri dengan merotasi skuad pun perlahan mulai ia kurangi. Jamie Vardy, Riyad Mahrez, N'golo Kante, Wes Morgan, Kasper Schmeichel serta Andy King merupakan pakem dari permainan Ranieri. Disamping itu masih ada nama seperti Leonardo Ulloa yang siap menjadi kartu AS kala Vardy tak mampu merusak gawang lawan. Pilar utama Leicester City bagai mesin panser yang mana semakin panas semakin menggila. Kegilaan mereka semakin menjadi kala mereka berhasil membungkam sejumlah tim besar. Tim sekelas Arsenal, Chelsea, Liverpool berulang kali kerepotan ketika bertemu Si Rubah. Karier Ranieri di Leicester dan Yunani seperti halnya sisi koin yang berbeda.
Dilly ding, dilly dong.
Dalam sebuah konferensi pers, Ranieri berbicara sebuah kalimat yang dianggap hanya hayalan tingkat tinggi. “Kami berada di Liga Champion! Dilly ding, dilly dong, Anda berbicara tentang blah, blah, blah, tetapi kami menembus Liga Champions! Hal ini fantastis! Selanjutnya? Kami harus juara musim ini atau tidak sama sekali!” memang cukup naif karena Leicester city masih membutuhkan 8 poin untuk mengamankan titel Liga Inggris dan masih menyisakan 4 pertandingan. Semua bisa terjadi, bahkan kemungkinan terburuk sekalipun sangat bisa terjadi.
Akan tetapi, cerita terindahlah yang tertulis. Dilly ding, dilly dong seperti mantra yang sakti bagi Ranieri. Setelah mengunci posisi di Liga Champions, mereka berhasil menulis dongeng terindah bagi sepak bola Inggris. Ya, meskipun tim seperti Blackburn Rovers pernah menuliskan cerita yang sama di tahun 1995, tapi situasi mereka sangat berbeda. Blackburn saat itu diisi ujung tombak ganas macam Chris Sutton dan Alan Shearer. Sedangkan Leicester bermodalkan pemain yang biasa saja bahkan medioker.
Dongeng indah yang dicatatkan oleh The Tinkerman adalah anti tesis dari julukan The Tinkerman itu sendiri. Saat dulu ia disindir karena sering merubah skuad, justru bersama Si Rubah lah ia bisa menjadi juara. Semua orang nampak tak percaya. Kala masih menahkodai Chelsea dengan sejumlah bintang, dia gagal, tapi dengan Leicester dongeng itu tertulis indah dan semua orang justru mencintai Ranieri dengan sepak bolanya.
Watford, Dongeng baru ?
Seperti sebuah dongeng, akan selalu indah di awal dan belum tentu indah jika hal itu terulang. Penunjukkannya dirinya sangat dinanti banyak orang, tim sekelas Watford tak jauh beda dengan Leicester City di musim 2015/2016. Materi pemain seadanya, tak ada bintang membuat kami berekspektasi akan dongeng baru.
Menerka pola pikir Ranieri memanglah sulit, kala tim bertabur bintang ditangannya justru tim itu biasa saja. Justru saat tim itu diisi oleh pemain biasa saja ia meraih puncak tertinggi sepak bola Inggris yaitu juara Liga Premier Inggris.
Dilly ding, dilly dong The Tinkerman, kami menunggu dongeng indah lain darimu!
Grazie!
**Tulisan ini adalah hasil dari patah hati seorang pemuda yang masih mencintai seseorang dalam diam**
Comments
Post a Comment