Di sebuah negara ada sebuah lelucon lucu yang makin lucu ketika kita katakan berulang kali.
Lelucon itu berbunyi:
Jangan campur politik dan sepak bola.
bagaimana tidak, di sana politik menari elok diatas sepak bola. Olahraga yang mendapat atensi lebih ketimbag bulutangkis yang jelas lebih berprestasi daripada olahraga yang dimainkan oleh 11 orang tapi diurus oleh beberapa onggok batang kayu.
di Negara yang katanya "dulu kami macan asia" sepak bola tak benar diurus secara "manusia"
cerita soal gaji pemain yang bahkan sampai level profesional pun tak kunjung dibayar sering kali kami lihat berkeliaran bebas di media masa. pemain yang hidup tidak seperti atlet profesional yang mana sering gampang ditemui di pub ketimbang istirahat, atau atlet yang masih memasukkan gorengan ke mulutnya dan dengan bangga mengucapkan itu di media yang ditonton.
Sungguh bodoh mereka ini, mau saja mengidolai manusia seperti itu.
Pemilihan ketua umum federasi bagaikan kontestasi politik, ya kami tegas mengucapkan itu.
beberapa kali kami menemui ketua umum federasi setelah purna tugas memilih untuk menjadi dewan bahkan kepala daerah. Tak sedikit pula kami menemukan pernyataan konyol dari seseorang yang diagungkan di federasi tersebut yang terlihat seperti manusia yang tak paham sepak bola dan budaya suporter itu seperti apa.. ada kalimat yang bilang kalau "suporter bermain flare itu kampungan" dan justru disuruh untuk meniru budaya suporter eropa. Tunggu, pernahkan bapak nonton pertandingan Liga Italia, Liga Jerman, Liga Turki, bahkan Liga Belanda? Pujaan bapak yang mana selalu bapak jilat itu bahkan dulu salah satu pemilik tim di Italia.
ada pula ketum yang mengatakan bahwa tidak boleh ada yang menghalangi agenda timnas.
Pak, mohon maaf. apakah yang dimaksud adalah agenda yang termasuk dalam agenda resmi FIFA yang bapak sering lobby? atau hanya agenda selevel kelompok ASEAN yang mana dilakukan untuk memberikan menit bermain bagi pemain yang jarang mendapatkan menit bermain?
Kalau memang untuk level kelompok umur ASEAN apa salahnya menggunakan pemain pelapis, toh kita juga pernah menang, kita juga dapat emas di level yang hampir sama. turnamen level seperti itu tak perlu pemain grade A untuk bermain. katanya bapak ingin melakukan "PEMBIBITAN PEMAIN" dan "PRESTASI BERKELANJUTAN" tapi kok malah mengejar level yang seharusnya Negara ini tidak perlu ada di sana?
Sudahlah pak, tak usah mengatai pelatih asing, wong anda juga tidak paham sepak bola.
oh iya pak, anda berjanji untuk "MENOLAK LUPA KANJURUHAN"
SEMOGA ANDA TIDAK AMNESIA!
SALAM UNTUKMU, CAWAPRES!
Ratu tisha masuk komplotan ini gak kak?
ReplyDeleteHehe
ReplyDelete