Merajut Asa Di Tanah Kelahiran.
Meskipun memegang paspor Maroko, Hakimi adalah anak kelahiran Madrid asli. Mimpinya untuk bermain bagi tanah kelahiran sudah ditanamnya sejak kecil. Talentanya istimewa, diusianya yang belum genap 19 tahun dirinya sudah berada di skuad utama Real Madrid. Zidane hafal betul bagaimana cara Hakimi bermain, karena saat masih berada di akademi dia adalah anak didik Zidane. Namun asa dan cita-citanya sedikit terhambat karena pos bek kanan diisi juga oleh lulusan akademi Madrid lainnya yaitu Dani Carvajal. Mengingat harus bersaing ketat dengan Carvajal dan menunggu jatah main yang tak menentu membuatnya harus rela lebih banyak menunggu di bangku cadangan.
Pada musim 2017/2018 diriya hanya berhasil mencatat 9 penampilan dan 2 gol di semua kompetisi. Akhir ceritanya di tanah kelahiran ditutup dengan proposal peminjaman dari Borrusia Dortmund. Hakimi pun menutup Madrid dan berkelana ke Dortmund dengan harapan kembali lagi ke Madrid dan menggeser pos yang dihuni oleh Carvajal.
Bagai Singa di Perantauan.
Nampaknya makna itu cukup tepat menggambarkan bagaimana Hakimi di Jerman. Bermain sebagai bek kanan dia seolah tak tergantikan di Dortmund. Hakimi menjadi pilar penting Die Borrusen sebagai title conteder (meskipun ujung-ujungnya Munchen juga) di Bundesliga. Rapat dalam bertahan, pun juga rajin dalam membantu serangan lah yang menjadikannya sebagai pemain paling banyak diminati di bursa transfer.
Dua musim bermain di Jerman anak Maroko itu menunjukkan bahwa meminjamkannya adalah langkah yang salah. Lucien Favre percaya betul dengan Hakimi. Sebelum Erling Haaland datang dari RB Salzburg, Hakimi merupakan pencetak gol terbanyak di Dortmund. Bagi seorang bek kanan, torehan 12 gol dan 17 asis dari 73 penampilan catatan itu cukup istimewa. Akhir cerita di Dortmund, berbekal catatan tersebut Hakimi berhasil pulang ke Madrid dan melanjutkan mimpi masa kecilnya.
Plot Twist Saat Musim Panas.
Bagaikan drama Korea yang selalu punya plot akhir yang berbanding terbalik, cerita Hakimi pun begitu. Harapannya untuk bermain di tanah kelahiran pun sirna. Torehan yang dicatatkan di tanah rantau dirasa kurang cukup bagi pelatih Madrid. Akhirnya Hakimi pun harus legowo ketika dirinya harus dilego ke Inter Milan.
Disaat orang berkata bahwa Hakimi belum cukup mampu bersaing dengan pemain senior lainnya, dirinya tak ambil pusing. Di perantauan selanjutnya Hakimi bagaikan berlian, mengilap ketika dipoles oleh tangan yang tepat. Bersama Antonio Conte dirinya menjadi pilar utama dari permainan khas Conte. Dipasang sebagai bek kanan gantung yang diwajibkan bertahan dan menyerang sama baiknya. Jangan tanyakan Hakimi soal menyerang, karena di Dortmund sebelum kedatangan Erling Haaland dia adalah pencetak gol terbanyak Die Borrusen. Kecakapannya dalam bertahan pun juga sama baiknya.
Mungkin masih banyak yang bertanya mengapa dengan gampangnya Madrid melepas Achraf Hakimi ke Dortmund lalu ke Inter Milan. Namun hal itu sudah menjadi hal yang wajar apabila melihat isi skuad Madrid kala Hakimi masih berada di sana. Menggeser Dani Carvajal dari pos bek kanan bukanlah hal yang mudah, pun begitu menggeser Marco Asensio atau bahkan Lucas "Yang di-Pertuan Agung" Vazquez sekalipun. Namun sebagai fans sepak bola alangkah baiknya kita menyaksikan Achraf Hakimi bermain entah dimana, karena Hakimi tak pernah mengecewakan dalam setiap penampilannya. Terakhir, jangan kalian menghakimi Achraf Hakimi sebelum pernah mencobanya.
Comments
Post a Comment