Skip to main content

Jangan Hakimi Dulu Sebelum Mencobanya

Achraf Hakimi ketika melihat Lord Vazquez bermain di posisinya

Secangkir kopi hangat dan juga ketela rebus menemani suasan hujan di kota pelajar. Diiringi dengan lantunan lagu dari Red Velvet berjudul Future nampaknya masa depan masih abu - abu didepan sana. Setelah perantauan yang tak cukup indah diakhir membuat saya berpikir ulang tentang bagaimana langkah kedepannya. Namun benar kata orang bahwa perantauan tak selamanya indah, banyak makna kiasan dalam menggambarkan tanah rantau. Lain cerita bagi pemuda asal Maroko,yaitu Achraf Hakimi. Baginya perantauna adalah tempat yang tepat untuk menunjukkan pada dewan direksi Real Madrid dan pelatih kepala yaitu Zinedine Zidane bahwa menghakiminya sebelum mencobanya adalah langkah yang salah besar. 

Merajut Asa Di Tanah Kelahiran.

Meskipun memegang paspor Maroko, Hakimi adalah anak kelahiran Madrid asli. Mimpinya untuk bermain bagi tanah kelahiran sudah ditanamnya sejak kecil. Talentanya istimewa, diusianya yang belum genap 19 tahun dirinya sudah berada di skuad utama Real Madrid. Zidane hafal betul bagaimana cara Hakimi bermain, karena saat masih berada di akademi dia adalah anak didik Zidane. Namun asa dan cita-citanya sedikit terhambat karena pos bek kanan diisi juga oleh lulusan akademi Madrid lainnya yaitu Dani Carvajal. Mengingat harus bersaing ketat dengan Carvajal dan menunggu jatah main yang tak menentu membuatnya harus rela lebih banyak menunggu di bangku cadangan. 

Pada musim 2017/2018 diriya hanya berhasil mencatat 9 penampilan dan 2 gol di semua kompetisi. Akhir ceritanya di tanah kelahiran ditutup dengan proposal peminjaman dari Borrusia Dortmund. Hakimi pun menutup Madrid dan berkelana ke Dortmund dengan harapan kembali lagi ke Madrid dan menggeser pos yang dihuni oleh Carvajal. 

Bagai Singa di Perantauan. 

Nampaknya makna itu cukup tepat menggambarkan bagaimana Hakimi di Jerman. Bermain sebagai bek kanan dia seolah tak tergantikan di Dortmund. Hakimi menjadi pilar penting Die Borrusen sebagai title conteder (meskipun ujung-ujungnya Munchen juga) di Bundesliga. Rapat dalam bertahan, pun juga rajin dalam membantu serangan lah yang menjadikannya sebagai pemain paling banyak diminati di bursa transfer. 

Dua musim bermain di Jerman anak Maroko itu menunjukkan bahwa meminjamkannya adalah langkah yang salah. Lucien Favre percaya betul dengan Hakimi. Sebelum Erling Haaland datang dari RB Salzburg, Hakimi merupakan pencetak gol terbanyak di Dortmund. Bagi seorang bek kanan, torehan 12 gol dan 17 asis dari 73 penampilan catatan itu cukup istimewa. Akhir cerita di Dortmund, berbekal catatan tersebut Hakimi berhasil pulang ke Madrid dan melanjutkan mimpi masa kecilnya. 

Plot Twist Saat Musim Panas.

Bagaikan drama Korea yang selalu punya plot akhir yang berbanding terbalik, cerita Hakimi pun begitu. Harapannya untuk bermain di tanah kelahiran pun sirna. Torehan yang dicatatkan di tanah rantau dirasa kurang cukup bagi pelatih Madrid. Akhirnya Hakimi pun harus legowo ketika dirinya harus dilego ke Inter Milan. 

Disaat orang berkata bahwa Hakimi belum cukup mampu bersaing dengan pemain senior lainnya, dirinya tak ambil pusing. Di perantauan selanjutnya Hakimi bagaikan berlian, mengilap ketika dipoles oleh tangan yang tepat. Bersama Antonio Conte dirinya menjadi pilar utama dari permainan khas Conte. Dipasang sebagai bek kanan gantung yang diwajibkan bertahan dan menyerang sama baiknya. Jangan tanyakan Hakimi soal menyerang, karena di Dortmund sebelum kedatangan Erling Haaland dia adalah pencetak gol terbanyak Die Borrusen. Kecakapannya dalam bertahan pun juga sama baiknya. 

Mungkin masih banyak yang bertanya mengapa dengan gampangnya Madrid melepas Achraf Hakimi ke Dortmund lalu ke Inter Milan. Namun hal itu sudah menjadi hal yang wajar apabila melihat isi skuad Madrid kala Hakimi masih berada di sana. Menggeser Dani Carvajal dari pos bek kanan bukanlah hal yang mudah, pun begitu menggeser Marco Asensio atau bahkan Lucas "Yang di-Pertuan Agung" Vazquez sekalipun. Namun sebagai fans sepak bola alangkah baiknya kita menyaksikan Achraf Hakimi bermain entah dimana, karena Hakimi tak pernah mengecewakan dalam setiap penampilannya. Terakhir, jangan kalian menghakimi Achraf Hakimi sebelum pernah mencobanya. 

Comments

Popular posts from this blog

STY…

mengenai bagaimana olahraga populer di bangsa ini benar benar hanya bisa dimainkan oleh si Kaya. sejak awal kedatangannya, asa itu ada. Final AFF, lolos piala asia. fase yang seharusnya dinikmati bangsa ini. Fase yang seharusnya dibarengi dengan pembinaan.  bila ada narasi “Panama saja lolos World Cup, kita lebih besar harusnya bisa” dengan dalih demikian, bolehkah saya beropini bahwa “bangsa kita lebih luas daripada Islandia dan bahkan Georgia, mengapa pemain kita begitu2 saja?”  Panama bisa lolos World Cup dengan segala kerja kerasnya, betul. untuk negara yang dikelilingi garis pantai, iklim tropis dan juga budaya sepakbola tidak seperti Indonesia, saya pikir lolosnya Panama bagaikan cerita fiksi karya JK Rowling. Kelanjutan ceritanya ditunggu banyak orang Islandia. anomali dari bangsa Viking. dikala Finlandia pemainnya bermain di tier A eropa. Di finlandia ada Jari Litmanen, Sami Hyypia. Negara tersebut belum pernah tampil di putaran final piala dunia, tapi Islandia?  ...

Menanti Gigi Berhenti

sumber : planetfootball.com  Dalam sebuah kisah, suatu lakon pasti akan punya akhir. Akhir dari setiap lakon akan berbeda dan tak akan pernah sama, pun dengan jalan yang lakon itu tempuh. Contoh ketika lakon dalam seorang raja dalam perang bisa saja mati ketika berperang atau bisa saja lakon seperti sengkuni yang tak bisa diduga alurnya karena dia selalu bisa menghindar dari maut berkat kelihaiannya dalam menjilat. Begitu pula dalam dunia sepak bola, para pelakonnya memiliki kisahnya masing-masing dan akhir cerita yang beragam.  Pesepak bola memiliki kisah yang sama sekali tak bisa ditebak. Zinedine Zidane misalnya. Awal kariernya ditulis dengan tinta emas. Dari Cannes, bersinar di Bordeaux, matang di Juventus sampai akhirnya menyundahi semuanya di Madrid. Kemilau kebintangan Zidane terpancar kala ia bersama Didier Deschamp, Emmanuel Petit, Marcel Desaily serta Thiery Henry berhasil mengawinkan gelar dunia dan eropa pada tahun 1998 dan 2000. Selain bersinar bersama Le Bleus, R...

Romansa Dari Tanah Bergamo

wahai Pasalic, mulut anda bau Ditemani dengan seabrek pekerjaan, kami berusaha untuk bercerita tentang romansa kami. Ya, Romansa Gubol atau gurau bola. Kami dipertemukan dalam sebuah universitas dan hobi yang sama. Yaitu sepakbola.  Mungkin beberapa orang berasumsi bahwa ketika kami berkumpul hanya sepakbola yang kami bahas. Tentu saja asumsi itu salah, karena tak jarang kami membahas soal wanita. Teman wanita kami sering jadi bahan omongan kala kami sedang bergurau.  Semalam kami baru saja bertemu virtual dan kami saling mengolok satu sama lain. Tapi ya begitulah kami, kata baper atau bawa perasaan seolah hilang begitu saja meskipun umpatan sering kita keluarkan untuk mengolok satu sama lain.  Akan tetapi, kisah kami tak selamanya indah. Kami pernah berada di titik nadir, titik yang tak pernah kami bayangkan. Ya, harapan awal komunitas kami bisa menjangkau nasional seolah pupus ketika kita berada dititik itu. Hanya saja, ada satu harapan kala kami berbicara s...