Skip to main content

Dunia Tak Selalu Indah Bagi Bojan.

https://thesefootballtimes.com

Dunia bagi setiap orang tak pernah sama. Dunia ini akan dirasa indah apabila semua berjalan sesuai rencana. Rencana matang dengan eksekusi baik ditambah dengan timing yang tepat selalu akan membuahkan hasil yang baik. Maka dunia akan terasa indah. Namun tidak semua aspek terpenuhi hasil akan indah. Bojan Krkic contohnya.
Tahun 2007 lalu dunia terasa indah bagi Bojan. Di umur yang belum lama genap 17 tahun, Bojan sudah menjalani pertandingan perdana di level senior bagi Barcelona. Semua mata tertuju padanya. Tak salah memang, karena pendahulunya yaitu Lionel Messi juga melakukan hal yang sama. Dunia terasa indah, iya itu tidak berlebihan. 
Bermodalkan 850 gol secara total disemua level junior tak ayal membuat namanya dianggap bisa lebih dari Messi. Muda, skill mumpuni, dan beringas didepan gawang. Tak ayal membuat Bojan muda saat itu menjadi primadona baru bagi skuad Barca. 
Pelatih Barcelona saat itu Frank Rijkaard pun seolah menjadi pendukung setia Bojan. Bojan mendapatkan kesempatan bermain yang cukup banyak saat itu. 48 laga dijalani saat itu, Bojan terlibat dalam 18 gol. 12 gol dan 6 asis dinilai menjadi pijakan awal yang bagus untuk bocah 17 tahun. 
Pesona Bojan yang Mulai Pudar.
Di akhir musim 2008 semua berubah. Pendukung setia Bojan gagal memuaskan klub, Legenda Belanda itu dipecat. Selepas perginya Rijkaard, romansa Bojan dan Barcelona perlahan mulai hilang. Rijkaard yang dipecat diakhir musim karena kalah dalam perburuan gelar melawan rival abadinya, Real Madrid. Joseph Guardiola pun melanjutkan tongkat estafet. 
Selama tiga musim Guardiola menjadi pelatih semua tak lagi sama. Ungkapan itu memang benar adanya. Bojan yang sebelumnya bersama Rijkaard bak primadona yang bisa menghibur pemirsa bola, seolah angin-anginan. Jumlah mainnya berkurang, pun begitu dengan jumlah golnya. 
Hari harinya dihabiskan untuk duduk dibangku cadangan melihat Lionel Messi makin lihai menarik perhatian orang. Bojan yang mulai gerah dengan bangku cadangan akhirnya memilih untuk terbang ke negeri pada gladiator, yaitu Roma. 
Kisah Singkat di Roma. 
Semua tak sesuai harapan. Kalimat tersebut menggambarkan situasi Bojan saat itu. Harapan untuk bersatu dan bermain untuk Luis Enrique tak seindah bayangan Bojan. Dirinya gagal memuaskan Enrique. Dari total 37 laga dijalani, hanya 7 gol yang berhasil ia berikan untuk Roma. 
Bagaikan singa muda di Coloseum. Iya, memang benar. Tapi singa muda itu tak berkutik dihadapan singa dan serigala di luar sana. Cerita ditutup dengan peminjamannya ke kota Milan. 
Cerita Suram dari Kota Mode. 
Kembali, harapan Bojan untuk bermain bola seperti level junior seolah tak diridhoi Tuhan. Pergi ke Milan memberikan secerca harapan bagi Bojan. Namun semuanya hanya harapan. Semusim di Milan dirinya hanya 3 kali menjebol jala lawan. Sisanya ? Bojan seolah mati kutu di Italia.  Disisi lain, Bojan mulai akrab dengan cidera. Kisahnya di Milan ditutup dengan kesuraman. 
Semua tak berakhir begitu saja. Diakhir musim, Barcelona membeli Bojan kembali dengan harapan sang anak didik bisa kembali seperti sedia kala. Akan tetapi itu hanya ilusi. Setiba di Camp Nou, Bojan langsung melanjutkan petualangan ke Amsterdam. 
Kincir Angin Meniup Bakat Bojan. 
Datang langsung dari Barcelona, Bojan berharap bisa banyak berbicara di Belanda. Frank De Boer yang menjadi nahkoda diharapkan Bojan bisa mendidiknya untuk menjadi awak kapal yang mengesankan. 
Akan tetapi semua kembali lagi, Bojan menelan kenyataaan yang tak sesuai harapan. Dari 32 penampilan, 5 gol yang bisa Bojan berikan di Ajax. 
Sisa waktu di Ajax dihabiskan Bojan untuk perawatan dan duduk di bench. Nampak tak istimewa, memang seperti itu keadaanya. Tak menemukan dirinya yang dulu, Bojan memilih untuk bertualang ke Inggris.
Inggris yang Biasa Saja Bagi Bojan.
Datang ke Inggris asa itu pun muncul. Bukan City, Liverpool, Chelsea maupun United, Bojan melabuhkan karirnya di Stoke City. Stoke memanglah bukan tim kelas atas, tapi ketika kita ingin naik keatas harus dari bawah dahulu. Pemikiran Bojan pun mungkin seperti itu. 
Berharap capaian tinggi, tapi ya begitulah Bojan. Inkonsistensi dan cidera seolah datang silih berganti mengisi hari-hari Bojan Krkic. 
Dalam empat musim mengarungi perjalanan bersama Stoke, jumlah gol Bojan semakin defisit. Hal itu membuat orang mempertanyakan 'kemana perginya "Bojan"?'. 
Perjalanan di Stoke dilewati bukan tanpa halangan. Dirinya mengalami peminjaman demi peminjaman. Mulai dari Mainz hingga Deportivo Alaves. 
Usia Emas Berlalu Begitu Saja. 
Masa peminjaman Bojan dari Stoke City memang sebuah kejadian yang lumrah. Lumrah ketika seorang striker sulit mendapatkan tempat utama. Namun, semua seakan tidak lumrah apabila itu terjadi saat berada di usia emas. Usia yang seharusnya mengantarkan Bojan ke puncak karier justru mengantarkannya dari peminjaman ke peminjaman lain. 
Pada dua peminjaman tersebut, Bojan sangat mengecewakan. Dua musim itu dilewati dengan hanya 2 gol. Dua gol di dua tempat berbeda semakin meyakinkan masyarakat bahwa Bojan sudah habis. Bakat dan skillnya hilang entah kemana. Hal itu yang membuatnya untuk menutup buku Eropa dan mulai mencari cerita baru di MLS.
Mencari Dana Pensiun. 
Usia memang tak bisa membohongi. Bojan sudah hampir 30 tahun, namun semua tak sesuai harapan. Semua cerita di awal karier yang diharapkan bisa berakhir indah, hanyalah sebuah oase. Kini langkah Bojan terhenti di Amerika. 
Setelah melabuhkan kapal ke beberapa klub Eropa, akhirnya Bojan menyerah. Bojan memilih untuk mencari dana pensiun di Amerika. Setidaknya apabila karier sepakbola Bojan benar-benar habis, dirinya bisa beradu akting dengan beberapa artis Hollywood. Mungkin bila itu tidak terjadi, setidaknya Bojan menjadi pebisnis properti di sana. 

Diakhir kata, sebagai pecinta bola yang menyaksikan langsung Bojan Krkic debut, kami mengharapkan Bojan bisa kembali ke level terbaik. Meskipun itu sulit, kami selalu yakin bahwa tak selamanya dunia itu indah, pun tak selamanya pula dunia itu suram. 

Comments

Popular posts from this blog

STY…

mengenai bagaimana olahraga populer di bangsa ini benar benar hanya bisa dimainkan oleh si Kaya. sejak awal kedatangannya, asa itu ada. Final AFF, lolos piala asia. fase yang seharusnya dinikmati bangsa ini. Fase yang seharusnya dibarengi dengan pembinaan.  bila ada narasi “Panama saja lolos World Cup, kita lebih besar harusnya bisa” dengan dalih demikian, bolehkah saya beropini bahwa “bangsa kita lebih luas daripada Islandia dan bahkan Georgia, mengapa pemain kita begitu2 saja?”  Panama bisa lolos World Cup dengan segala kerja kerasnya, betul. untuk negara yang dikelilingi garis pantai, iklim tropis dan juga budaya sepakbola tidak seperti Indonesia, saya pikir lolosnya Panama bagaikan cerita fiksi karya JK Rowling. Kelanjutan ceritanya ditunggu banyak orang Islandia. anomali dari bangsa Viking. dikala Finlandia pemainnya bermain di tier A eropa. Di finlandia ada Jari Litmanen, Sami Hyypia. Negara tersebut belum pernah tampil di putaran final piala dunia, tapi Islandia?  ...

Menanti Gigi Berhenti

sumber : planetfootball.com  Dalam sebuah kisah, suatu lakon pasti akan punya akhir. Akhir dari setiap lakon akan berbeda dan tak akan pernah sama, pun dengan jalan yang lakon itu tempuh. Contoh ketika lakon dalam seorang raja dalam perang bisa saja mati ketika berperang atau bisa saja lakon seperti sengkuni yang tak bisa diduga alurnya karena dia selalu bisa menghindar dari maut berkat kelihaiannya dalam menjilat. Begitu pula dalam dunia sepak bola, para pelakonnya memiliki kisahnya masing-masing dan akhir cerita yang beragam.  Pesepak bola memiliki kisah yang sama sekali tak bisa ditebak. Zinedine Zidane misalnya. Awal kariernya ditulis dengan tinta emas. Dari Cannes, bersinar di Bordeaux, matang di Juventus sampai akhirnya menyundahi semuanya di Madrid. Kemilau kebintangan Zidane terpancar kala ia bersama Didier Deschamp, Emmanuel Petit, Marcel Desaily serta Thiery Henry berhasil mengawinkan gelar dunia dan eropa pada tahun 1998 dan 2000. Selain bersinar bersama Le Bleus, R...

Romansa Dari Tanah Bergamo

wahai Pasalic, mulut anda bau Ditemani dengan seabrek pekerjaan, kami berusaha untuk bercerita tentang romansa kami. Ya, Romansa Gubol atau gurau bola. Kami dipertemukan dalam sebuah universitas dan hobi yang sama. Yaitu sepakbola.  Mungkin beberapa orang berasumsi bahwa ketika kami berkumpul hanya sepakbola yang kami bahas. Tentu saja asumsi itu salah, karena tak jarang kami membahas soal wanita. Teman wanita kami sering jadi bahan omongan kala kami sedang bergurau.  Semalam kami baru saja bertemu virtual dan kami saling mengolok satu sama lain. Tapi ya begitulah kami, kata baper atau bawa perasaan seolah hilang begitu saja meskipun umpatan sering kita keluarkan untuk mengolok satu sama lain.  Akan tetapi, kisah kami tak selamanya indah. Kami pernah berada di titik nadir, titik yang tak pernah kami bayangkan. Ya, harapan awal komunitas kami bisa menjangkau nasional seolah pupus ketika kita berada dititik itu. Hanya saja, ada satu harapan kala kami berbicara s...