Skip to main content

Matador Dari Santpedor

20 Dec 2000: Josep Guardiola of Barcelona in action during the Primera Liga match between Barcelona and Alaves played at the Nou Camp in Barcelona. Mandatory Credit: Allsport UK/ALLSPORT

Tanah Catalan memang selalu indah jika dipandang dari atas. Maksud kami menggunakan drone view. Yap, Catalan akan nampak indah dengan tata kota yang baik. Namun kami bukan media yang membahas teknik sipil maupun arsitektur. Di tanah itu, tepatnya 18 hari setelah tahun baru 1971. Lahir seorang bakal calon matador yang akan mengguncang persepak bolaan dunia. Josep Guardiola i Sala namanya. 
Berawal Dari Pendidikan Lokal.
Sebagai seorang akamsi, Guardiola selalu bangga akan daerahnya. Pendidikan dasar sebagai pesepak bola pun juga berasal dari Catalan. Datang sebagai bocah menginjak remaja, Guardiola berkembang sangat baik. 
Karir junior pep tidak lah lama, dirinya hanya butuh waktu enam tahun untuk menembus tim B. Tim yang sering disebut tim satelit oleh banyak media. Di tim satelit pun, Pep hilir mudik untuk nyambi di tim utama. Hingga akhirnya pep menjadi pilihan di tim A.
Dilatih Sang Maestro.
Kesempatan di Barcelona tak disia-siakan. Pep memang bukanlah pemain yang bisa menghibur dengan liukan manja khas samba atau bermain indah khas tango. Tapi pep menjadi dirinya sendiri, bermain sederhana. Selama bermain di Barcelona pun dia dibimbing dengan baik oleh mentor dengan pamor bintang. 
Berawal dari Cruijff sebagai orang yang berjasa atas karir Pep. Jika orang yang tumbuh dan berkembang di era 70an, nama Cruijff bukanlah dongeng layaknya "Timun Emas". Cruijff adalah nyata, pun begitu dengan sentuhannya. 
Guardiola belajar soal sepak bola simpel bersama Johan Cruijff. Bersama Cruijff, Guardiola meraih piala bergengsi. Mulai dari Liga Champions, Piala Winners, Piala Super Eropa, Piala Super Spanyol hingga 4 juara Liga Spanyol secara berturut-turut.
Romansa Pep dan Cruijff harus berakhir di akhir musim 1995/1996. Setelah belajar dengan Cruijff, dia berlanjut belajar dengan Carles Rexach. Walaupun tak lama, tetap Guardiola menghormati gurunya. Setelah Rexach berlalu, Bobby Robson pun datang. Sang juru taktik asal Inggris pun diserap ilmunya dengan baik oleh Guardiola. Bobby Robson hanya bertahan semusim. Setelah Bobby Robson pergi, dilatih oleh Louis Van Gaal. Namun cerita Guardiola di Barcelona ditutup bersama Llorenç Serra Ferrer. Bersama maestro lain Guardiola melengkapi gelar La Liga nya menjadi 6.
Mengembara Ke Tanah Dino Zoff
Usai khatam dengan persepakbolaan Spanyol Guardiola memilih untuk merantau. Tanah yang melahirkan Dino Zoff dipilihnya. Selama di Italia, Guardiola membela Brescia serta Roma. Bisa dikatakan bahwa karir Guardiola sudah mendekati ujung. Ditambah lagi keputusannya pergi ke Roma bisa jadi pijakan yang salah. Karena Fabio Capello beranggapan bahwa Guardiola tak sesuai dengan skema permainannya. Alhasil pengembaraan di Italia Guardiola total hanya bermain sebanyak 28 kali selama tiga musim mengembara. 
Berkelana Ke Timur Tengah.
Publik berasumsi bahwa karir Guardiola habis selepas pergi dari Barcelona. Tak mau ambil pusing, Guardiola lalu pergi ke Timur Tengah dan Al Ahli menjadi pilihan. Selama dua musim di timur tengah, Guardiola seolah stuck. Perannya lebih menjadi figur dan mentor pemain-pemain junior di Al Ahli. Merasa sudah cukup dan karirnya cenderung menurun, Pep memilih berguru ke Mexico. 
Belajar Dari Juanma. 
Kepergian Guardiola ke Mexico bukan tanpa tujuan. Uang jelas bukan, karena Guardiola sudah cukup uang untuk hidup biasa. Dia hanya ingin belajar tentang kepelatihan lagi dengan sang master. Yaitu Juan Manuel Lillo atau akrab dipanggil Juanma. 
Modus kedatangan Guardiola pun juga diamini oleh Sebastian Abreu. Abreu yang pernah bermain bersama Guardiola di Dorados Sinaloa berkisah bahwa selepas berlatih Guardiola bergegas ke ruang ganti dan mengambil buku catatan, kemudian ia mulai mencatat dan bertanya banyak kepada Juanma.
Setelah semusim bermukim di Mexico, Guardiola memilih berhenti untuk berperan sebagai pemain. Dia menggantungkan sepatunya dan mulai berteman dengan tactical board dan statistik maupun data pemain. 

Gambaran soal Josep Guardiola mungkin saja kurang lengkap. Karena masa kecil kami sudah ditinggal Guardiola ke Al Ahli. Kami tak menyaksikan langsung aksinya sebagai pemain. Akan tetapi kami tahu bahwa keberadaan Guardiola di kursi kepelatihan tak lepas dari mentor yang mendidiknya saat menjadi pemain. Karena Guardiola bermain untuk manajer hebat saat dia di Barcelona maupun klub lain 

Comments

  1. Sebagai penggemar taktikal pep, terima kasih sdh memberi tambahan informasi.
    Sy dulu suka dgn barcelona krn gaya tiki taka yg bgitu memukau, tp skrg sy lbh suka liga inggris yg lbh dinamis persaingan antar club. Sy suka man city sblm pep datang ke mancit. Ditambah kedatangannya keindahan permainan bola di mancit smkin mempesona.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih kak atas feedbacknya. Oh iya itu masih dalam sudut padang pep sebagai pemain. Akan ada artikel tentang pep sebagai pelatih dan pribadinya.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

STY…

mengenai bagaimana olahraga populer di bangsa ini benar benar hanya bisa dimainkan oleh si Kaya. sejak awal kedatangannya, asa itu ada. Final AFF, lolos piala asia. fase yang seharusnya dinikmati bangsa ini. Fase yang seharusnya dibarengi dengan pembinaan.  bila ada narasi “Panama saja lolos World Cup, kita lebih besar harusnya bisa” dengan dalih demikian, bolehkah saya beropini bahwa “bangsa kita lebih luas daripada Islandia dan bahkan Georgia, mengapa pemain kita begitu2 saja?”  Panama bisa lolos World Cup dengan segala kerja kerasnya, betul. untuk negara yang dikelilingi garis pantai, iklim tropis dan juga budaya sepakbola tidak seperti Indonesia, saya pikir lolosnya Panama bagaikan cerita fiksi karya JK Rowling. Kelanjutan ceritanya ditunggu banyak orang Islandia. anomali dari bangsa Viking. dikala Finlandia pemainnya bermain di tier A eropa. Di finlandia ada Jari Litmanen, Sami Hyypia. Negara tersebut belum pernah tampil di putaran final piala dunia, tapi Islandia?  ...

Menanti Gigi Berhenti

sumber : planetfootball.com  Dalam sebuah kisah, suatu lakon pasti akan punya akhir. Akhir dari setiap lakon akan berbeda dan tak akan pernah sama, pun dengan jalan yang lakon itu tempuh. Contoh ketika lakon dalam seorang raja dalam perang bisa saja mati ketika berperang atau bisa saja lakon seperti sengkuni yang tak bisa diduga alurnya karena dia selalu bisa menghindar dari maut berkat kelihaiannya dalam menjilat. Begitu pula dalam dunia sepak bola, para pelakonnya memiliki kisahnya masing-masing dan akhir cerita yang beragam.  Pesepak bola memiliki kisah yang sama sekali tak bisa ditebak. Zinedine Zidane misalnya. Awal kariernya ditulis dengan tinta emas. Dari Cannes, bersinar di Bordeaux, matang di Juventus sampai akhirnya menyundahi semuanya di Madrid. Kemilau kebintangan Zidane terpancar kala ia bersama Didier Deschamp, Emmanuel Petit, Marcel Desaily serta Thiery Henry berhasil mengawinkan gelar dunia dan eropa pada tahun 1998 dan 2000. Selain bersinar bersama Le Bleus, R...

Romansa Dari Tanah Bergamo

wahai Pasalic, mulut anda bau Ditemani dengan seabrek pekerjaan, kami berusaha untuk bercerita tentang romansa kami. Ya, Romansa Gubol atau gurau bola. Kami dipertemukan dalam sebuah universitas dan hobi yang sama. Yaitu sepakbola.  Mungkin beberapa orang berasumsi bahwa ketika kami berkumpul hanya sepakbola yang kami bahas. Tentu saja asumsi itu salah, karena tak jarang kami membahas soal wanita. Teman wanita kami sering jadi bahan omongan kala kami sedang bergurau.  Semalam kami baru saja bertemu virtual dan kami saling mengolok satu sama lain. Tapi ya begitulah kami, kata baper atau bawa perasaan seolah hilang begitu saja meskipun umpatan sering kita keluarkan untuk mengolok satu sama lain.  Akan tetapi, kisah kami tak selamanya indah. Kami pernah berada di titik nadir, titik yang tak pernah kami bayangkan. Ya, harapan awal komunitas kami bisa menjangkau nasional seolah pupus ketika kita berada dititik itu. Hanya saja, ada satu harapan kala kami berbicara s...