Pep Guardiola dan Mourinho saat di Barcelona.
Berkisah Tentang Lionel Messi.
Guardiola sekarang memang dapat pengakuan seluruh dunia bahwa dia jenius. Tak miskin taktik, pun tak banyak percobaan yang merugikan timnya. Dirinya bak seorang dosen di ruang kelas. Menerangkan dengan detail, dan akan naik pitam ketika taktiknya tak berjalan.
Ketika mengawali karir di Barcelona senior, Guardiola bisa dianggap beruntung. Lantaran disekelilingnya terdapat pemain yang matang kala itu. Pep sapaan akrabnya dianggap tinggal menyusun strategi dengan pemain tersebut. Namun kenyataan tak seindah mulut tetangga. Seperti itu ukaranya.
Ketika Guardiola hadir, dia dihadapkan dengan situasi yang rumit. Kala itu, ketika Lionel Messi sedang mantap-mantapnya berkembang. Guardiola seolah terkunci pada situasi 'Messi Sentris'. Peran Messi dianggap terlalu dianak emaskan oleh Guardiola. Situasi memang demikian, pun kami tak bisa banyak berbicara soal itu karena memang saat itu Messi memang sedang berkembang pesat. Beberapa pemain pun dianggap menjadi tumbal akan perkembangan Messi. Bojan Krkic contohnya.
Akan tetapi, sisi lain dari semua itu adalah kecerdasan Guardiola memilih pemain. Pemain yang kami maksud adalah yang sanggup menopang Lionel Messi namun tak terlalu banyak show up. Bisa dianggap Guardiola mencari pemain yang efektif. Cukup singkat, efektif adalah kata kuncinya. Dirinya bisa merubah sosok Sergio Busquet menjadi gelandang yang underrated. Tak diperhitungkan, bahkan cenderung diremehkan akan tetapi kehadirannya menjadi penyeimbang. Di sisi lain, Xavi dan Iniesta menjadi figur yang amat penting di lini tengah. Ibarat kata, hanya dengan Xavi, Iniesta dan juga Busquet lini tengah Barca tak akan tembus. Namun kembali lagi, filosofi permainan Barca yang kental sedari akademi ke senior mempermudah Guardiola untuk menata strateginya.
Kedinginan Di Tanah Bavaria.
Pep menyatakan bahwa dirinya bukanlah pelatih yang cemen. Setelah memutuskan untuk beristirahat setahun lalu menolak United, dirinya pergi ke Jerman. Kembali, Guardiola dihadapkan dengan pemain yang matang di sana. Robben, Ribery, Toni Kross, serta Bastian Schweinsteiger mempermulus Guardiola dalam meracik strategi.
Namun, Guardiola tak hanya bersantai dan menganggap bahwa dedengkot Bavaria bisa membuatnya nyaman dalam melatih. Dirinya turut serta membawa Thiago Alcantara, sang murid dari tanah Catalan. Sang murid pun menguatkan bahwa dirinya ingin membuat mini barca di tanah Bavaria.
Akan tetapi, kehadiran Thiago tak serta merta membuat Guardiola merasa nyaman di tanah Bavaria. Dirinya tetap merasa kedinginan, lantatan tiga musim bermukim di Bavaria dirinya gagal mempertahankan Piala "Si Kuping Besar". Dia dianggap gagal di Munchen. Ya apa mau dikata, tanpa kehadiran Guardiola juara Bundesliga Jerman memang menjadi langganan Bayern Munchen.
Hijrah Ke Manchester.
Cerita baru datang dari Manchester. Disaat Manchester United mengumumkan Jose Mourinho menjadi manager menggantikan Van Gaal, sang rival sekota juga mengumumkan sahabat karib Mou, yaitu Guardiola. Mourinho dan Guardiola bisa dikatakan sahabat lama, karena saat Guardiola masih aktif bermain, Mou menjadi intepreter dari Sir Bobby Robson di Barcelona dan menjadi asisten Louis Van Gaal.
Clash mereka pun tak hanya terjadi sekali dua kali. Saat masih melatih Barcelona, Guardiola dikalahkan oleh Internya Mourinho. Namun saat Mou datang ke Spanyol, hampir sering Mou dikerjai oleh Guardiola.
Kesampingkan soal cerita di atas. Karena perjalanan karir Guardiola akan kembali diceritakan. Kala menerima pinangan Manchester City, situasi hampir sama. Bahkan bisa dikatakan lebih meringankan. Karena Pep tinggal tunjuk pemain mana yang akan dia pakai sesuai taktik, lalu uang berbicara.
Menaruh sentral permainan pada David Silva, ditopang dengan Fernandinho dan Kevin De Bruyne membuat permainan Guardiola semakin dinamis. Dirinya tak hanya tentang tikitaka namun bisa menggabungkannya dengan kick&rush ala Inggris. Menarik memang, dan sudah tentu superior.
Sisi Gelap Guardiola
Tak selamanya Guardiola menjadi kesukaan orang, atau mungkin bisa mencintai orang lain. Sisi kelam Pep diungkapkan oleh beberapa mantan anak didiknya. Yaya Toure misalnya. Dia menganggap bahwa Pep adalah orang paling rasis yang pernah ia temui.
Pernyataan Yaya Toure pun juga diamini oleh Samuel Eto'o. Selain itu dirinya juga bermasalah dengan Zlatan.
Selain ketiga anak asuhnya di atas, dirinya juga dibenci oleh Frank Ribery, Samir Nasri, bahkan Jadon Sancho. Ketiga pemain tersebut dipinggirkan oleh Guardiola ketika dirinya menjadi pelatih bagi mereka.
Bagi mereka, Josep Guardiola tetaplah pelatih hebat nan jenius. Dia tahu kapan harus merubah strateginya. Tapi di sisi lain, kita tak selalu sepakat dalam menilai orang. Ya, meskipun dicintai oleh banyak penggemar Pep tentu saja ada yang membenci. Pastinya mereka punya alasan tersendiri ketika membenci Guardiola, tapi mungkin Guardiola juga punya alasan tersendiri dalam memarkir pemainnya.
Comments
Post a Comment