Skip to main content

Berkisah Soal Pep Guardiola

Pep Guardiola dan Mourinho saat di Barcelona.

Musim sepak bola terutama liga di tanah Eropa memang sudah lah usai. Namun selalu ada cerita menarik yang selalu bisa diulik pada sepak bola. Di malam yang dingin di tanah rantau, kami sebisa mungkin mengikuti perkembangan sepak bola. Sebagai mana kita semua tahu, Liga Indonesia belum kembali berlanjut. Namun tetap, ada saja bahasan yang dapat diceritakan. Tak perlu belibet soal itu, marilah kita tengok sang perantau di tanah Britania Raya. Josep Guardiola. 
Berkisah Tentang Lionel Messi.
Guardiola sekarang memang dapat pengakuan seluruh dunia bahwa dia jenius. Tak miskin taktik, pun tak banyak percobaan yang merugikan timnya. Dirinya bak seorang dosen di ruang kelas. Menerangkan dengan detail, dan akan naik pitam ketika taktiknya tak berjalan. 
Ketika mengawali karir di Barcelona senior, Guardiola bisa dianggap beruntung. Lantaran disekelilingnya terdapat pemain yang matang kala itu. Pep sapaan akrabnya dianggap tinggal menyusun strategi dengan pemain tersebut. Namun kenyataan tak seindah mulut tetangga. Seperti itu ukaranya. 
Ketika Guardiola hadir, dia dihadapkan dengan situasi yang rumit. Kala itu, ketika Lionel Messi sedang mantap-mantapnya berkembang. Guardiola seolah terkunci pada situasi 'Messi Sentris'. Peran Messi dianggap terlalu dianak emaskan oleh Guardiola. Situasi memang demikian, pun kami tak bisa banyak berbicara soal itu karena memang saat itu Messi memang sedang berkembang pesat. Beberapa pemain pun dianggap menjadi tumbal akan perkembangan Messi. Bojan Krkic contohnya. 
Akan tetapi, sisi lain dari semua itu adalah kecerdasan Guardiola memilih pemain. Pemain yang kami maksud adalah yang sanggup menopang Lionel Messi namun tak terlalu banyak show up. Bisa dianggap Guardiola mencari pemain yang efektif. Cukup singkat, efektif adalah kata kuncinya. Dirinya bisa merubah sosok Sergio Busquet menjadi gelandang yang underrated. Tak diperhitungkan, bahkan cenderung diremehkan akan tetapi kehadirannya menjadi penyeimbang. Di sisi lain, Xavi dan Iniesta menjadi figur yang amat penting di lini tengah. Ibarat kata, hanya dengan Xavi, Iniesta dan juga Busquet lini tengah Barca tak akan tembus. Namun kembali lagi, filosofi permainan Barca yang kental sedari akademi ke senior mempermudah Guardiola untuk menata strateginya. 
Kedinginan Di Tanah Bavaria. 
Pep menyatakan bahwa dirinya bukanlah pelatih yang cemen. Setelah memutuskan untuk beristirahat setahun lalu menolak United, dirinya pergi ke Jerman. Kembali, Guardiola dihadapkan dengan pemain yang matang di sana. Robben, Ribery, Toni Kross, serta Bastian Schweinsteiger mempermulus Guardiola dalam meracik strategi. 
Namun, Guardiola tak hanya bersantai dan menganggap bahwa dedengkot Bavaria bisa membuatnya nyaman dalam melatih. Dirinya turut serta membawa Thiago Alcantara, sang murid dari tanah Catalan. Sang murid pun menguatkan bahwa dirinya ingin membuat mini barca di tanah Bavaria. 
Akan tetapi, kehadiran Thiago tak serta merta membuat Guardiola merasa nyaman di tanah Bavaria. Dirinya tetap merasa kedinginan, lantatan tiga musim bermukim di Bavaria dirinya gagal mempertahankan Piala "Si Kuping Besar". Dia dianggap gagal di Munchen. Ya apa mau dikata, tanpa kehadiran Guardiola juara Bundesliga Jerman memang menjadi langganan Bayern Munchen.
Hijrah Ke Manchester.
Cerita baru datang dari Manchester. Disaat Manchester United mengumumkan Jose Mourinho menjadi manager menggantikan Van Gaal, sang rival sekota juga mengumumkan sahabat karib Mou, yaitu Guardiola. Mourinho dan Guardiola bisa dikatakan sahabat lama, karena saat Guardiola masih aktif bermain, Mou menjadi intepreter dari Sir Bobby Robson di Barcelona dan menjadi asisten Louis Van Gaal. 
Clash mereka pun tak hanya terjadi sekali dua kali. Saat masih melatih Barcelona, Guardiola dikalahkan oleh Internya Mourinho. Namun saat Mou datang ke Spanyol, hampir sering Mou dikerjai oleh Guardiola. 
Kesampingkan soal cerita di atas. Karena perjalanan karir Guardiola akan kembali diceritakan. Kala menerima pinangan Manchester City, situasi hampir sama. Bahkan bisa dikatakan lebih meringankan. Karena Pep tinggal tunjuk pemain mana yang akan dia pakai sesuai taktik, lalu uang berbicara. 
Menaruh sentral permainan pada David Silva, ditopang dengan Fernandinho dan Kevin De Bruyne membuat permainan Guardiola semakin dinamis. Dirinya tak hanya tentang tikitaka namun bisa menggabungkannya dengan kick&rush ala Inggris. Menarik memang, dan sudah tentu superior. 
Sisi Gelap Guardiola 
Tak selamanya Guardiola menjadi kesukaan orang, atau mungkin bisa mencintai orang lain. Sisi kelam Pep diungkapkan oleh beberapa mantan anak didiknya. Yaya Toure misalnya. Dia menganggap bahwa Pep adalah orang paling rasis yang pernah ia temui.
Pernyataan Yaya Toure pun juga diamini oleh Samuel Eto'o. Selain itu dirinya juga bermasalah dengan Zlatan. 
Selain ketiga anak asuhnya di atas, dirinya juga dibenci oleh Frank Ribery, Samir Nasri, bahkan Jadon Sancho. Ketiga pemain tersebut dipinggirkan oleh Guardiola ketika dirinya menjadi pelatih bagi mereka. 

Bagi mereka, Josep Guardiola tetaplah pelatih hebat nan jenius. Dia tahu kapan harus merubah strateginya. Tapi di sisi lain, kita tak selalu sepakat dalam menilai orang. Ya, meskipun dicintai oleh banyak penggemar Pep tentu saja ada yang membenci. Pastinya mereka punya alasan tersendiri ketika membenci Guardiola, tapi mungkin Guardiola juga punya alasan tersendiri dalam memarkir pemainnya. 

Comments

Popular posts from this blog

STY…

mengenai bagaimana olahraga populer di bangsa ini benar benar hanya bisa dimainkan oleh si Kaya. sejak awal kedatangannya, asa itu ada. Final AFF, lolos piala asia. fase yang seharusnya dinikmati bangsa ini. Fase yang seharusnya dibarengi dengan pembinaan.  bila ada narasi “Panama saja lolos World Cup, kita lebih besar harusnya bisa” dengan dalih demikian, bolehkah saya beropini bahwa “bangsa kita lebih luas daripada Islandia dan bahkan Georgia, mengapa pemain kita begitu2 saja?”  Panama bisa lolos World Cup dengan segala kerja kerasnya, betul. untuk negara yang dikelilingi garis pantai, iklim tropis dan juga budaya sepakbola tidak seperti Indonesia, saya pikir lolosnya Panama bagaikan cerita fiksi karya JK Rowling. Kelanjutan ceritanya ditunggu banyak orang Islandia. anomali dari bangsa Viking. dikala Finlandia pemainnya bermain di tier A eropa. Di finlandia ada Jari Litmanen, Sami Hyypia. Negara tersebut belum pernah tampil di putaran final piala dunia, tapi Islandia?  ...

Menanti Gigi Berhenti

sumber : planetfootball.com  Dalam sebuah kisah, suatu lakon pasti akan punya akhir. Akhir dari setiap lakon akan berbeda dan tak akan pernah sama, pun dengan jalan yang lakon itu tempuh. Contoh ketika lakon dalam seorang raja dalam perang bisa saja mati ketika berperang atau bisa saja lakon seperti sengkuni yang tak bisa diduga alurnya karena dia selalu bisa menghindar dari maut berkat kelihaiannya dalam menjilat. Begitu pula dalam dunia sepak bola, para pelakonnya memiliki kisahnya masing-masing dan akhir cerita yang beragam.  Pesepak bola memiliki kisah yang sama sekali tak bisa ditebak. Zinedine Zidane misalnya. Awal kariernya ditulis dengan tinta emas. Dari Cannes, bersinar di Bordeaux, matang di Juventus sampai akhirnya menyundahi semuanya di Madrid. Kemilau kebintangan Zidane terpancar kala ia bersama Didier Deschamp, Emmanuel Petit, Marcel Desaily serta Thiery Henry berhasil mengawinkan gelar dunia dan eropa pada tahun 1998 dan 2000. Selain bersinar bersama Le Bleus, R...

Romansa Dari Tanah Bergamo

wahai Pasalic, mulut anda bau Ditemani dengan seabrek pekerjaan, kami berusaha untuk bercerita tentang romansa kami. Ya, Romansa Gubol atau gurau bola. Kami dipertemukan dalam sebuah universitas dan hobi yang sama. Yaitu sepakbola.  Mungkin beberapa orang berasumsi bahwa ketika kami berkumpul hanya sepakbola yang kami bahas. Tentu saja asumsi itu salah, karena tak jarang kami membahas soal wanita. Teman wanita kami sering jadi bahan omongan kala kami sedang bergurau.  Semalam kami baru saja bertemu virtual dan kami saling mengolok satu sama lain. Tapi ya begitulah kami, kata baper atau bawa perasaan seolah hilang begitu saja meskipun umpatan sering kita keluarkan untuk mengolok satu sama lain.  Akan tetapi, kisah kami tak selamanya indah. Kami pernah berada di titik nadir, titik yang tak pernah kami bayangkan. Ya, harapan awal komunitas kami bisa menjangkau nasional seolah pupus ketika kita berada dititik itu. Hanya saja, ada satu harapan kala kami berbicara s...