Skip to main content

Kisah Rebel Mason Greenwood

masih kecil kok sudah rebel to kamu nak. ckckck.
Suasana hujan di perantauan dengan suasana hati yang tak menentu, ditemani dengan salah satu barang yang selalu menemani saya saat pikiran dan hati tak tenang ini semua nampak suram di depan. 
Mengingat tentang barang ini, bagaimana saya berkenalan dengan barang ini sangatlah lucu. Disaat orang disekitar saya berusaha untuk menjauhinya, justru saya mendekat. Rebel memang saya ini. Sudah dikasih tahu kok ya masih ngeyel. 
Tapi kisah kerebelan saya tak sebanding dengan prestasi, iya saya memang orang yang sangatlah bodoh dalam bidang akademik maupun non akademik, disuruh belajar malah main bola atau bahkan nonton bola, giliran disuruh latihan sepak bola di SSB saya malah main layangan. 
Akan tetapi kisah kerebelan saya, akan sangat biasa karena cap "nakal" dan bodoh sudah saya terima semenjak duduk di bangku sekolah. Seperti biasanya, seperti warga negara di bangsa ini saya dicap bodoh dan nakal karena dibandingkan dengan sebaya saya. 
Tapi kisah rebel akan nampak aneh ketika dialami oleh anak yang berprestasi baik secara akademik maupun non akademik. 
Marilah kita berkenalan dengannya, Mason Greenwood namanya. Seorang bocah asli Manchester, Inggris.
Praktis selama 2 musim lalu Mason adalah primadona baru di tanah Britania Raya. Bagaimana tidak, d iusia 18 tahun dia nampak tak canggung bermain dengan pemain yang secara umur dan pengalaman ada diatasnya. Kemampuan kaki kanan dan kaki kiri sama kuatnya ditambah dribbel yang ciamik membuat semua mata pemirsa bola tertuju padanya, pun begitu dengan sorot kamera media. 
Orang tua Mason mendidiknya dengan kedisiplinan, bahkan pihak United pun dilarang memberikan spot untuk mempertemukannya dengan media-media di Inggris. Alhasil Mason keluar dengan pemberitaan yang indah ketika berada di Media. 
Akan tetapi semua berbanding terbalik ketika Starsyndrome melanda Mason. Kerebelannya bermula ketika dirinya merajah dirinya dengan Tatto. Saya tak menganggap tatto itu buruk, hanya asumsi masyarakat yang seperti itu. 
Pemanggilan di tim nasional Inggris bahkan menambah tatapan kamera media lebih tajam ke Mason. 
Pelatih tim nasional Inggris memberikan tempat pada Mason untuk berbicara di depan media. Darah muda yang ada dalam diri Mason pun semakin bergejolak ketika menerima pujian dan dielu-elukan oleh seantero Inggris, dan dunia tentunya. 
Baru saja mendapatkan debut di tim nasional, Mason menunjukkan kerebelannya. Di malam hari, Mason justru memasukkan teman wanitannya ke kamar hotel. Tempat privat pemain Inggris pun ternodai. Southgate murka, Mason pun dipulangkan ke Inggris. 
Tak berhenti disitu, Mason kembali berbuat ulah. Semalam dia tertangkap kamera sedang menghirup gas ketawa. Gas yang mengandung zat berbahaya bagi seorang atlit. Ulah usil itu pun bisa jadi perhatian bagi sang pelatih MU yaitu Ole Gunnar Solskjaer untuk memikirkan ulang tentang hukuman apa yang membuat Mason jera. 

Wahai Mason Greenwood, masa muda dan kariermu masih sangatlah panjang. Tak perlulah berulah yang tak penting di luar lapangan. Ingatlah Mason, dirimu terkenal di dalam lapangan. Akan tetapi, sorot kamera akan selalu mengintaimu sampai keluar lapangan. Kembalilah Mason ke jalan yang benar, Dunia dan tentunya saya akan menantikan aksimu di Piala Dunia U20 di Indonesia.

Sampai Bertemu di Manahan Solo, Mason Greenwood! 

Comments

Popular posts from this blog

STY…

mengenai bagaimana olahraga populer di bangsa ini benar benar hanya bisa dimainkan oleh si Kaya. sejak awal kedatangannya, asa itu ada. Final AFF, lolos piala asia. fase yang seharusnya dinikmati bangsa ini. Fase yang seharusnya dibarengi dengan pembinaan.  bila ada narasi “Panama saja lolos World Cup, kita lebih besar harusnya bisa” dengan dalih demikian, bolehkah saya beropini bahwa “bangsa kita lebih luas daripada Islandia dan bahkan Georgia, mengapa pemain kita begitu2 saja?”  Panama bisa lolos World Cup dengan segala kerja kerasnya, betul. untuk negara yang dikelilingi garis pantai, iklim tropis dan juga budaya sepakbola tidak seperti Indonesia, saya pikir lolosnya Panama bagaikan cerita fiksi karya JK Rowling. Kelanjutan ceritanya ditunggu banyak orang Islandia. anomali dari bangsa Viking. dikala Finlandia pemainnya bermain di tier A eropa. Di finlandia ada Jari Litmanen, Sami Hyypia. Negara tersebut belum pernah tampil di putaran final piala dunia, tapi Islandia?  ...

Menanti Gigi Berhenti

sumber : planetfootball.com  Dalam sebuah kisah, suatu lakon pasti akan punya akhir. Akhir dari setiap lakon akan berbeda dan tak akan pernah sama, pun dengan jalan yang lakon itu tempuh. Contoh ketika lakon dalam seorang raja dalam perang bisa saja mati ketika berperang atau bisa saja lakon seperti sengkuni yang tak bisa diduga alurnya karena dia selalu bisa menghindar dari maut berkat kelihaiannya dalam menjilat. Begitu pula dalam dunia sepak bola, para pelakonnya memiliki kisahnya masing-masing dan akhir cerita yang beragam.  Pesepak bola memiliki kisah yang sama sekali tak bisa ditebak. Zinedine Zidane misalnya. Awal kariernya ditulis dengan tinta emas. Dari Cannes, bersinar di Bordeaux, matang di Juventus sampai akhirnya menyundahi semuanya di Madrid. Kemilau kebintangan Zidane terpancar kala ia bersama Didier Deschamp, Emmanuel Petit, Marcel Desaily serta Thiery Henry berhasil mengawinkan gelar dunia dan eropa pada tahun 1998 dan 2000. Selain bersinar bersama Le Bleus, R...

Romansa Dari Tanah Bergamo

wahai Pasalic, mulut anda bau Ditemani dengan seabrek pekerjaan, kami berusaha untuk bercerita tentang romansa kami. Ya, Romansa Gubol atau gurau bola. Kami dipertemukan dalam sebuah universitas dan hobi yang sama. Yaitu sepakbola.  Mungkin beberapa orang berasumsi bahwa ketika kami berkumpul hanya sepakbola yang kami bahas. Tentu saja asumsi itu salah, karena tak jarang kami membahas soal wanita. Teman wanita kami sering jadi bahan omongan kala kami sedang bergurau.  Semalam kami baru saja bertemu virtual dan kami saling mengolok satu sama lain. Tapi ya begitulah kami, kata baper atau bawa perasaan seolah hilang begitu saja meskipun umpatan sering kita keluarkan untuk mengolok satu sama lain.  Akan tetapi, kisah kami tak selamanya indah. Kami pernah berada di titik nadir, titik yang tak pernah kami bayangkan. Ya, harapan awal komunitas kami bisa menjangkau nasional seolah pupus ketika kita berada dititik itu. Hanya saja, ada satu harapan kala kami berbicara s...