Sabtu dua pekan lalu, media sosial terguncang oleh suatu kabar yang cukup mengejutkan. Legenda, ya kalimat itu pertama kali terucap ketika kabar ini menyeruak ke seluruh linimasa media. Seorang legenda sepak bola berpulang ke pangkuan Sang Pencipta. Ricky Yakob atau Yakobi penyerang yang menakutkan di medio 80an hingga awal 90an. Jujur saja, saat mendengar kabar meninggalnya beliau saya hampir saja langsung menulis tentang beliau. akan tetapi niat saya tertahan karena menghormati keluarga almarhum.
Bercerita tentang beliau tak lengkap apabila tanpa melibatkan ibu saya. Bukan, ibu saya bukanlah siapa-siapa beliau. Kenal dekat pun tidak. Mungkin bisa dikatakan kalau Ibu saya ensiklopedia saya apabila berbicara soal sepakbola nasional. Menyinggung soal Ricky Yakobi, Ibu saya akan bercerita soal legenda masa lampau yang pernah beliau saksikan secara langsung aksi-aksinya.
Ricky Yakobi merupakan penyerang yang cukup ditakuti oleh lawannya. Baik dalam level nasional maupun Internasional semuanya sepakat tentang kehebatannya apabila nama Ricky Yakobi pertama kali terucap. Level nasional Ricky bermain untuk beberapa klub dari Arseto Solo, hingga tanah kelahirannya PSMS Medan pernah dibelanya.
Level klub, Ricky Yakobi juga mengesankan. Pasalnya Ricky tak hanya bermain untuk klub dalam negeri, akan tetapi beliau juga pernah bermain di luar negeri. Ricky Yakobi pernah berkarir di Liga Jepang, Matsushita adalah klubnya di Liga Jepang. Matsushita sendiri merupakan cikal bakal dari Gamba Osaka, salah satu raksasa di J-League belakangan ini. Namun di Jepang Ricky hanya sanggup bermain sebanyak 5 penampilan dan mencatatkan 1 gol.
Banyak asumsi yang berkembang tentang gagalnya Ricky Yakobi di Jepang, ada yang bilang bahwa kendala cuaca yang menjadi penghalang lantaran Ricky Yakobi tak cukup kuat dengan cuaca dingin di Jepang, ada pula yang berasumsi bahwa Ricky mengalami cidera pada pergelangan kakinya.
Untuk level Internasional, Ricky Yakobi bersama tim nasional pernah meraih medali emas di SEA Games yang di gelar di Jakarta. Stadion Senayan menjadi saksi sejarah bagaimana duet maut lini depan yang di isi Ricky Yakobi dan Ribut Waidi berhasil meraih emas. Semua pencapaian beliau bisa jadi hanya akan menjadi dongeng bagi generasi sekarang. Akan tetapi nama Ricky Yakobi tetap harum dalam persepakbolaan Indonesia.
Saya masih ingat kehebatan beliau saat pertandingan antara Indonesia Legend melawan Milan Glory. Sentuhan pertama beliau kala mendapatkan umpan dari Kurniawan Dwi Yulianto menegaskan bahwa beliau sangat amat berbahaya jika di kotak pinalti. Masih kelas juga pemain itu, kata ibu saya yang mendampingi saya menonton pertandingan tersebut melalu televisi.
Semenjak kepergian beliau, kerinduan publik sepakbola akan penyerang yang lapar akan gol didukung dengan sentuhan pertama yang baik akan semakin menjadi.
Akhir kata, semua bisa menjadi legenda. Semua orang bisa menjadi penyerang. Akan tetapi, tak akan ada lagi Ricky Yakobi selanjutnya. Karena beliau terlalu sempurna untuk Indonesia. Andai saja saat itu Indonesia tidak takluk dengan Korea Selatan di Pra Piala Dunia 1986, mungkin saja Ricky Yakobi akan mencatatkan tinta emasnya hingga kancah dunia.
Selamat Jalan Ricky Yakobi.
Oh Capito, Mio Capito,
Ricky Yakobi, Ciao!
Comments
Post a Comment