Skip to main content

Derby El Petrol Money

(pemain dengan gaji tertinggi di masing-masing klub) 


Duel delapan tim besar Eropa sudah usai. Ada kisah menarik, pilu, dan haru dari pertempuran kemarin malam. Kylian Mbappe misalnya, pemuda asal Prancis keturunan Aljazair berhasil merengkuh semi final untuk kedua kalinya secara berturut-turut. Lain Mbappe lain pula Erling Haaland. Pemuda yang beberapa waktu lalu agen dan ayahnya jalan - jalan untuk menawarkannya ke beberapa klub besar Eropa justru tak mampu membawa Dortmund melangkah lebih jauh. 

Kisah pilu dan haru tidak hanya dicatatkan oleh sang pemain. Para pelatih pun memiliki kisah yang hampir sama. Bagi Zinedine Zidane, ini adalah semi final kelimanya Ini adalah semi final pertama semenjak 2 musim lalu gagal meraihnya. Kisah pilu dicatatkan oleh Juergen Klopp dan Liverpoolnya. Musim ini Klopp dan Liverpool dipastikan Nil gelar. Hal ini dikarenakan Liverpool sudah terdapak dari FA Cup, Carabao Cup dan sulit mengejar Manchester City di puncak klasemen Liga Premier Inggris. 

Kisah lain datang dari negeri semenanjung Arab. Tunggu, apa ini ? Kenapa ada semenanjung Arab di semi final Liga Champions ?. Tentu ada dan duel ini akan menjadi bahasan yang tak akan ada hentinya jelang kick off maupun sesudah pertandingan. 

Undian Semi Final Liga Champions Eropa atau biasa disebut (UCL) mempertemukan Paris Saint Germain melawan Manchester City. Lini masa media sosial sudah melabeli duel ini adalah Duel Uang Minyak. Mengapa demikian ? Mari kita mulai bahasan tersebut sacara bertahap. Di mulai dari sisi Biru Langit Manchester. 

Tunggangan Politikus Thailand 

Musim panas 2008 tanah Inggris dikejutkan dengan transfer Robson De Sausa nama kerennya yaitu Robinho dari Real Madrid ke kota Manchester, bukan ke United melainkan ke City. Manchester City yang saat itu ditukangi Mark Hughes pun mendapatkan spotlight media. Bagaimana tidak, tim yang sebelumnya hilir mudik ke Championship dan Premier League kala itu berani mendatangkan seorang bintang muda asal Brazil. Maharnya pun tidak main-main hampir 50 juta pound saat itu. 

Dibalik itu semua ada Perdana Menteri Thailand yang ternyata mengakuisisi saham mayoritas The Citizen. Thaksin Shinawatra berambisi besar dengan sepakbola. Tak hanya membawa beberapa bintang seperti Elano Blumer dan Robinho tapi Thaksin juga membawa beberapa pemain muda Thailand untuk berlatih di kota Manchester, salah satunya Terasil Dangda. 

Namun bulan madu Thaksin dan publik City Of Manchester harus berakhir. Kasus korupsi yang melibatkan Thaksin harus menjual City ke taipan dari semenanjung Arab, yaitu Syeikh Mansour. 

Petrol Money Can Give You Anything.

Mungkin makna itu tidak berlebihan. Jelas, diawal kepemimpinan Syeikh Mansour di City Of Manchester, dia melakukan pembelian gila. Roque Santa Cruz, Emanuel Adebayor, Samir Nasri, Carlos Tevez. Mereka datang dengan bandrol diatas 25 juta poundsterling. Mungkin anda berpikir, apakah ada yang mau membeli pemain bernama Roque Santa Cruz sebegitu mahalnya disaat itu ? Jawabannya ada! Bahkan dia tidak menawar sekalipun! Itulah mengapa banyak yang beranggapan bahwa Manchester City lah dalang dari mahalnya pemain sepakbola disaat ini. 

Apakah anda bisa membayangkan saat pemain sekaliber Klass Jan Huntelaar yang notabene adalah TopSkor Eredivise saat itu dihargai "hanya" 20 juta poundsterling sedangkan Roque Santa Cruz dan Adebayor yang saat itu pemain biasa saja dihargai lebih mahal ? Masuk akal? Oh tentu tidak. Semenjak kejadian itu, banyak tim luar liga Inggris yang menjual pemainnya dengan harga yang tidak masuk akal. Namun The Citizen tidak hanya mencari jalan instan untuk gelar juara, mereka juga membangun akademi kelas satu bernama Etihad Campus. 

Cahaya Dari Kampus Etihad. 

Sebenarnya, kecemerlangan Etihad Campus masih dipertanyakan. Lantaran semenjak dipugar, praktis Manchester City jarang sekali mengorbitkan pemain asli akademinya. Rata-rata lulusan Etihad tidak bermain untuk The Citizen, mereka dilego murah lalu kembali dengan harga mahal. 

Para pemain yang berlatih di Etihad harus sabar menunggu mereka bisa menggeser nama - nama sekelas Sergio Aguero, Kevin De Bruyne, John Stones, dan Bahkan Ederson Moraes. Lulusan Etihad Campus yang berhasil menembus tim utama adalah Phil Foden. Sebenarnya lulusan Etihad Campus yang lain adalah Jadon Sancho, namun nama terakhir tidak pernah memijakkan kakinya ke Etihad Stadium sebagai pemain Manchester City. 

Meskipun dianggap tim yang menghalalkan uang untuk merengkuh prestasi, Manchester City tidak sendirian, di sisi Ibu Kota Prancis ada tim yang meniru kelakuan Manchester City, Paris Saint Germain namanya. 

Kapal Datang Dari Andalusia. 

Diperiode yang sama saat Syeikh Mansour merombak Manchester City secara besar-besaran, Nasser Al Khelaifi memulai proyeknya di Andalusia. Malaga adalah proyek awal Nasser di sepakbola. Di Andalusia Nasser mendaratkan bintang sekaliber Ruud Van Nistelrooy. Selain Ruuthje, Malaga juga mengorbitkan bintang muda bernama Francisco Roman Alarcon Suarez atau yang akrab di telinga dengan nama Isco Alarco. Manuel Pellegrini pun menukangi ditunjuk sebagai Manager. Tak main-main di musim pertamanya di Liga Champions Eropa, Malaga sukses menembus semifinal. 

Namun cerita Nasser dan Malaga harus terhenti ditengah jalan. Peraturan dari UEFA yang melarang seorang memiliki saham mayoritas di dua klub membuat Nasser melepaskan Malaga. Sebenarnya kepemilikan Nasser di PSG hanya berselang setahun setelah ia mengakusisi Malaga. Apabila Nasser masih memiliki saham di Malaga, maka salah satu dari keduanya harus rela absen di kompetisi Eropa. 

Kota Mode Bertabur Bintang. 

Saat Nasser datang, PSG merupakan tim dari Ligue 2. Namun saat membangun PSG, Nasser Al Khelaifi bukanlah pemilik yang pelit. Di musim promosi PSG mendatangkan beberapa nama top di Serie A seperti Marco Verratti, Salvatore Sirigu, Ezequiel Lavezzi, Thiago Silva, dan Zlatan Ibrahimovic. Selain membeli pemain dari Serie A, Carlo Anchelotti alenatorre asal Negeri Pizza pun ditunjuk untuk menukangi PSG. 

Akan tetapi modal pemain - pemain tersebut tak membuat PSG langsung garang di Eropa. Beberapa kali bintang-bintang PSG terhenti maksimal 8 besar. Prestasi yang bahkan tak lebih baik dari Malaga. Bintang PSG hanya mampu menjuarai Liga Prancis, jago kandang di Liga Petani kata para penggemar sepak bola. Di Eropa mereka belum bisa berbicara banyak. 

Neymar dan Mbappe Mungkin Adalah Solusi 

Pada musim panas 2017 bursa transfer pemain digemparkan oleh dua berita besar. Berita pertama adalah klausul peminjaman PSG ke Monaco untuk pemuda bernama Kylian Sanmi Mbappe Lotin. Klausul peminjaman itu ditambah dengan opsi pembelian di akhir musim. Pecinta bola berasumsi bahwa kepergian Mbappe ke Paris adalah upaya PSG untuk menggembosi musuhnya di liga. Toh apa gunanya PSG mendaratkan Mbappe hanya untuk menjuarai liga. 

Berita mengejutkan kedua adalah pengaktifan klausul lepas Neymar dari Barcelona. Nilai fantastis digelontorkan PSG untuk Mega bintang asal Brazil. Tidak main-main 222 juta euro dibayarkan PSG demi menebus Neymar. Kali ini pecinta bola berasumsi kepergian Neymar ke PSG murni karena uang. Hal itu ditambah dengan rumor yang beredar bahwa gaji Neymar menyentuh 750 ribu euro per pekan. Bisa dikatakan Neymar adalah pemain dengan gaji tertinggi di dunia. Gila, memang. 

Kedatangan Mbappe dan Neymar melengkapi Julian Draxler, Angel Di Maria, serta beberapa bintang yang sudah didatangkan PSG sebelumnya.

Praktis semenjak kedatangan Neymar dan Mbappe prestasi PSG semakin meningkat di kancah Eropa. Musim lalu adalah final pertama PSG di Liga Champions. Musim ini pun mereka berhasil mencapai semi final untuk kedua kalinya. 


Akhir kata, kedua tim tersebut bisa dikatakan bermandikan uang dan berlumuran minyak dari timur tengah. Akan tetapi di kompetisi Eropa, uang bukanlah segalanya. APOEL Nicosia pernah menyentuh 8 besar, mereka pernah menggugurkan Lyon. 

Kedua tim melalui jalan dan proses yang panjang. Musim lalu PSG diuntungkan ketika bisa masuk ke Final lantaran mulai dari 8 besar hanya dilangsungkan selama 1 leg. Musim ini semua kembali ke porsi semula. Kali ini mental berbicara. Mental pemain seperti Neymar dan Mbappe akan di uji. Di sisi lain, mental pelatih juga di uji. Guardiola berhasil masuk ke final Liga Champions sebanyak dua kali bersama Barcelona, pada sisi musuh Pochettino juga bukan pelatih sembarangan. 

Mari kita tunggu duel dua tim bergelimang uang. Letakkan drakormu, menontonlah Champions bersamaku. 

Sekian.

Comments

Popular posts from this blog

STY…

mengenai bagaimana olahraga populer di bangsa ini benar benar hanya bisa dimainkan oleh si Kaya. sejak awal kedatangannya, asa itu ada. Final AFF, lolos piala asia. fase yang seharusnya dinikmati bangsa ini. Fase yang seharusnya dibarengi dengan pembinaan.  bila ada narasi “Panama saja lolos World Cup, kita lebih besar harusnya bisa” dengan dalih demikian, bolehkah saya beropini bahwa “bangsa kita lebih luas daripada Islandia dan bahkan Georgia, mengapa pemain kita begitu2 saja?”  Panama bisa lolos World Cup dengan segala kerja kerasnya, betul. untuk negara yang dikelilingi garis pantai, iklim tropis dan juga budaya sepakbola tidak seperti Indonesia, saya pikir lolosnya Panama bagaikan cerita fiksi karya JK Rowling. Kelanjutan ceritanya ditunggu banyak orang Islandia. anomali dari bangsa Viking. dikala Finlandia pemainnya bermain di tier A eropa. Di finlandia ada Jari Litmanen, Sami Hyypia. Negara tersebut belum pernah tampil di putaran final piala dunia, tapi Islandia?  ...

Menanti Gigi Berhenti

sumber : planetfootball.com  Dalam sebuah kisah, suatu lakon pasti akan punya akhir. Akhir dari setiap lakon akan berbeda dan tak akan pernah sama, pun dengan jalan yang lakon itu tempuh. Contoh ketika lakon dalam seorang raja dalam perang bisa saja mati ketika berperang atau bisa saja lakon seperti sengkuni yang tak bisa diduga alurnya karena dia selalu bisa menghindar dari maut berkat kelihaiannya dalam menjilat. Begitu pula dalam dunia sepak bola, para pelakonnya memiliki kisahnya masing-masing dan akhir cerita yang beragam.  Pesepak bola memiliki kisah yang sama sekali tak bisa ditebak. Zinedine Zidane misalnya. Awal kariernya ditulis dengan tinta emas. Dari Cannes, bersinar di Bordeaux, matang di Juventus sampai akhirnya menyundahi semuanya di Madrid. Kemilau kebintangan Zidane terpancar kala ia bersama Didier Deschamp, Emmanuel Petit, Marcel Desaily serta Thiery Henry berhasil mengawinkan gelar dunia dan eropa pada tahun 1998 dan 2000. Selain bersinar bersama Le Bleus, R...

Romansa Dari Tanah Bergamo

wahai Pasalic, mulut anda bau Ditemani dengan seabrek pekerjaan, kami berusaha untuk bercerita tentang romansa kami. Ya, Romansa Gubol atau gurau bola. Kami dipertemukan dalam sebuah universitas dan hobi yang sama. Yaitu sepakbola.  Mungkin beberapa orang berasumsi bahwa ketika kami berkumpul hanya sepakbola yang kami bahas. Tentu saja asumsi itu salah, karena tak jarang kami membahas soal wanita. Teman wanita kami sering jadi bahan omongan kala kami sedang bergurau.  Semalam kami baru saja bertemu virtual dan kami saling mengolok satu sama lain. Tapi ya begitulah kami, kata baper atau bawa perasaan seolah hilang begitu saja meskipun umpatan sering kita keluarkan untuk mengolok satu sama lain.  Akan tetapi, kisah kami tak selamanya indah. Kami pernah berada di titik nadir, titik yang tak pernah kami bayangkan. Ya, harapan awal komunitas kami bisa menjangkau nasional seolah pupus ketika kita berada dititik itu. Hanya saja, ada satu harapan kala kami berbicara s...