Awal Kisah
Paolo Maldini bukan anak kemarin sore bagi AC Milan. Ayahnya Cesare Maldini adalah pemain AC Milan dan pernah menggemblengnya langsung saat awal kariernya. Maldini sudah lebih dari 24 tahun mengabdi di Milan sebagai pemain. Bahkan jika orang bertanya pada Maldini di mana letak toilet San Siro, mungkin Maldini sudah tahu dengan mata tertutup.
Bisa dikatakan ketika Ronaldo membanggakan 5 trofi UCLnya maka dia harus sungkem dengan Maldini, karena Maldini mempunyai 5 trofi UCL terlebih dahulu dan di tim yang sama yaitu AC Milan.
Maldini bukan tidak banyak peminat, hanya dia selalu menolak untuk berpaling dari kota Milan. Ayahnya pernah berujar "Lupakan impianmu untuk melihat anakku berbaju Manchester United. Karena Ayahku, Aku dan Anakku adalah Milan" kepada Sir Alex Ferguson. Ayah Paulo yaitu Cesare dengan gamblang menolak Sir Alex Ferguson dan Manchester Unitednya yang menginginkan Paulo. Diakhir cerita sebagai pemain, Paulo menutup bukunya sebagai kapten AC Milan. " Il Capitano, per sempre" ujar suporter AC Milan.
Direksi Klub dan Tangan Besi Paulo.
Seperti saat bermain, Paolo adalah pemimpin. Dia berhasil memimpin Milan untuk menjadi tim besar setidaknya dekade 90an hingga milenium baru. Seperginya dari Milan sebagai pemain, dirinya tidak jauh2 dari Milan. Dia tetap ada di San Siro meskipun hanya sebatas penonton AC Milan.
Paolo bukan tidak bisa melatih hanya saja Paolo tidak sanggup bila dirinya harus berpisah dengan Milan lewat jalur pemecatan jika ia gagal. Kesabarannya berkarier di klub kebanggaan sebagai direksi akhirnya membuahkan Hasil, mundurnya Leonardo sebagai direktur teknik membuat posisi itu diisi oleh Il Capitano.
Sebagai direktur teknik, urusan Paolo berkutat soal negosiasi dengan pihak pemain, memastikan pemain yang dibutuhkan oleh pelatih sudah sesuai dan memastikan kontrak pemain sudah aman. Namun disinilah Paolo menunjukkan sisi pemimpinnya. Dia tegas, dia tak bisa didekte oleh agen manapun dan pemain siapa pun. Dia selalu menyesuaikan pemain dengan kebutuhan, bukan egonya. Di pertengahan jalan, Paolo harus berhadapan dengan lintah darat sekelas Mino Raiola.
Sebelumnya Milan sudah berulang kali membujuk Donnaruma untuk bertahan dan beberapa kali pula pihak Milan menuruti apa yang Donnaruma dan Mino Raiola mau. Akan tetapi lain cerita ketika Paolo datang. Seperti karakter dia saat bermain yang lugas dan tak suka bertele-tele, saat menjabat dewan direksi Milan pun Paolo begitu. Dia tak suka bertele-tele, mengulur negosiasi hanya membuat semua urusan klub jadi kacau.
Berawal dari pihak Donnaruma yang meminta naik gaji hingga 10 juta euro permusim, hanya mau diikat dengan durasi pendek ditambah dengan komisi agen yang harus dibayarkan klub sebesar 20 juta euro jika perpanjangan kontrak jelas itu membuat pihak AC Milan keberatan. Bagaimana tidak, itu seolah Milan setiap Donnaruma memperpanjang kontrak harus membayar Mino Raiola sebesar 20 juta euro.
Untuk pemain sekelas Donnaruma yang belum memberikan apapun pada Milan, jelas hal itu tak membuat Paolo pusing jika harus melepasnya secara gratis. Paolo tak mau pusing dengan urusan Donnaruma. Semenjak negosiasi kontrak yang alot, Paolo sudah tak melirik Donnaruma lalu fokus untuk mencari kiper yang hampir sama kelasnya dengan Donnaruma yaitu Mike Maignan dari Lille.
Paolo membiarkan anak didikan AC Milan pergi begitu saja tanpa ada uang masuk bagi Milan. Dalam Saga transfer ini, Paolo sebagai direktur teknik AC Milan menang atas agen sekaligus lintah darat sekaliber Mino Raiola. Paolo tak suka berbelit, baginya bermain untuk AC Milan adalah kebanggan yang bisa diukur hanya dengan uang.
Dari kasus Donnaruma, seolah agen dan Donnaruma sedang memeras AC Milan atas dasar kesetiaan. Akan tetapi akan salah alamat jika mengajari kesetiaan kepada Paolo Maldini. Seperti ucapan Cesar terhadap Sir Alex saat itu "Ayahku, Aku, dan aku adalah Milan." Maldini adalah Milan, dan Milan memilik klan Maldini.
Jangan sekali - kali mengajari kesetiaan kepada Paolo Maldini. Karena "Ayahku,Aku dan Anakku adalah Milan."
Comments
Post a Comment