Tahun 2020 adalah tahun yang berat bagi semua insan sepak bola. Pandemi,, Krisis keuangan, bahkan hingga sepakbola yang tidak bisa disaksikan penonton hingga akhir musim kemarin.
Akan tetapi secerca harapan datang di awal tahun 2021. Ketika vaksin sudah ditemukan, program vaksin digenjot agar pandemi lekas berakhir dan ekonomi bisa kembali bergairah tak terkecuali dunia sepakbola yang sudah mulai boleh dihadiri oleh penonton. Hungaria adalah satu-satunya negara yang membuka 100% kapasitas Stadion Puskas Arena selama EURO 2020.
Mario, Pisang dan Nyanyian Kera
Akan tetapi ada secuil kisah yang membuat tahun 2021 sama saja dengan tahun sebelumnya. Sebelum jauh melangkah akan kami ingatkan pada momen ketika seorang bocah 19 tahun bernama Mario Barwah Balotelli mentas di kancah sepak bola Italia, Eropa dan Dunia.
Talentanya luar bisa hebat. Dia adalah pemain terlengkap yang pernah dimiliki semesta. Posturnya tinggi menjulang, olah bolanya sangat menghibur mata, insting golnya diatas rata rata. Lalu ? Apa yang kurang dari dia? Tidak, dia tidak memiliki kekurangan. Dia sempurna. Hanya saja stereotipe masyarakat idiotlah yang membuat ia nampak memiliki kekurangan.
Stereotipe bahwa manusia berkulit hitam adalah buruk. Ketika dia bermain tak jarang banyak mendapat banyak hinaan berupa siulan suara kera, maupun tudingan pisang. Salahkah Mario? Tidak, Mario tidak salah. Manusia tak punya otak itulah yang salah.
Puncak dari kekesalan Super Mario adalah ketika ia mencetak gol ke gawang Manchester United. Pada pertandingan yang berakhir 1-6 tersebut Mario sempat membuka jerseynya dan menunjukkan tulisan "Why Always Me". Kalimat itu seolah menampar seluruh umat yg menyatakan rasis kepadanya dengan maksud "Kenapa selalu aku yang kau hina?" "Kenapa aku?" Akhirnya, kita tak pernah melihat Mario yang dulu. Dia kalah bukan karena skillnya, dia kalah karena hinaan masyarakat yang terfokus oleh warna kulitnya.
Cerita lain dari Italia. Kevin Prince Boateng lah aktornya. Pangeran blasteran Jerman/Ghana itu mendapat teriakan suara kera saat pertandingan lawan Pro Patria. Buntut dari aksi tersebut Boateng menghentikan pertandingan dan menendang bola ke arah suporter Pro Patria. Kapten Massimo Ambrosini pun memimpin pemain lain untuk meninggalkan lapangan karena ulah penonton tersebut.
Selain Mario Balotelli dan Kevin Prince Boateng, rasisme juga diterima mantan pemain AC Milan berdarah Ethiopia yaitu Seid Visin. Namun akhir cerita Visin dengan Mario dan Boateng berbeda. Visin justru memilih untuk bunuh diri lantaran tak kuat menerima perilaku rasisme dari masyarakat.
Somos Todos Monos, Somos Todos Mocacos!
Mulai dari pertandingan Valencia melawan Cadiz. Duel di kotak pinalti berbuntut pada mogoknya pertandingan. Hal itu dikarenakan Mouctar Diakhaby mendapat panggilan tak mengenakkan dari Juan Cala. Meskipun hal itu sempat disangkal Juan Cala, akan tetapi gerak gerik dan gaya bahasanya ketika jumpa pers nampak sekali dia menyembunyikan sebuah kebenaran dibalik retorika yang sudah disusun bersama lawyernya.
Cerita lain datang dari negeri Andalusia. Kala pertandingan antara Barcelona kontra Villareal di musim 2013/2014. Tepatnya 24 April 2014. Ketika hendak mengambil sepak pojok, Dani Alves mendapat lemparan pisang dari tribun penonton. Tak mau ambil pusing, Alves justru mengambil pisang tersebut dan memakannya. Hal itu memancing pemain lain untuk memberikan kampanye di sosial media mereka. Dengan pose memakan pisang, mereka menggunakan tagar #SomosTodosMonos #SomosTodosMocacos
artinya kurang lebih, kita semua monyet, kita semua sama.
Manusia, ya Manusia. Kera ya Kera.
Tidak ada ceritanya Manusia berubah jadi kera dan kera berubah menjadi manusia. Silahkan bagi penggila teori darwin menyangkal, tapi memang begitu cerita. Sesuai kodratnya, manusia ya Manusia. Kera ya kera. Namun di tempat lain, Reece James harus menghapus akun Instagramnya karena mendapat kiriman gambar kera pada pesan langsung di akunnya. Itu disebabkan oleh kekesalan pendukung klub rival lantaran tidak dapat menjebol gawang Chelsea yang mana James salah satu pilar pertahanan.
Belum usai kasus dari Reece James, media sosial Marcus Rashford menjadi sasaran empuk para idiot. Rashford mendapat komentar tak mengenakkan karena peformanya dilapangan yang tak sesuai ekspektasi. Hinaan dan cacian yang hampir sama yang didapatkan oleh James juga didapatkan oleh Rashford.
Tak cukup ketika ajang liga Inggris, para pendukung yang tak punya otak itu pun masih beraksi hingga EURO 2020 usai. Hal itu dialami oleh Marcus Rashford, Jadon Sancho dan Bukayo Saka. Mereka mendapatkan kiriman emoticon kera lantaran gagal mengeksekusi pinalti di final kontra italia. Atas kegagalan itu, Inggris yang semula koar-koar Football is Coming Home harus kecewa karena gagal mendapatkan piala.
Dari kasus-kasus tersebut dan kembali terulang, mau sampai kapan kelakuan layaknya manusia tak berotak itu berlangsung. Mau sampai kapan para pemain menjadi korban atas napsu ingin menang, napsu pelampiasan lantaran kalah judi ini berlangsung. Mau sampai beberapa bakat lagi yang harus melawan depresi karena mendapatkan perilaku rasial. Mau sampai berapa kali lagi melihat pemain bunuh diri karena tak mampu menerima ujaran rasial.
Janganlah beranggapan bahwa sebagai seorang pemain sepak bola harus siap menerima "Kritikan" dari fans. Nooo itu bukan kritikan ketika sudah menyangkut hal yang mereka tidak bisa rubah sejak dari lahir. Pemain tidak bisa memilih warna kulitnya saat dia dilahirkan. Mereka tak bisa memilih dari mana mereka berasal, orang tua seperti apa. Tapi, mereka bisa memilih bagaimana mereka hidup. Kritiklah sesuai dengan apa yang mereka lakukan di lapangan, jangan berdasarkan warna kulitnya.
Lalu, Mau sampai kapan ini berlarut?!
Comments
Post a Comment