Brescia kota indah di Utara Italia. Kota dengan banyak museum yang cukup indah bila dibandingkan dengan Naples yang berada di selatan. Akan tetapi Brescia bukan soal museum dan kota yang indah. Di sana pernah terlahir pesepakbola yang indah, anggun dan menawan tanpa banyak telukan bola.
Andrea Pirlo sang cucu penyuling anggur itulah orangnya. Kakek Pirlo merupakan taipan pebisnis wine ulung, Namun Pirlo memilih sepak bola sebagai jalan hidup. Tak pernah salah, justru menjadi berkah baginya. Sepakbola dan wine bagi Pirlo adalah 2 buah benang merah yang bisa dirajut menjadi rajutan indah.
Disaat muda Pirlo selalu dianggap pemain yang tak berbakat. Skillnya pas-pasan insting golnya pun juga tak terlalu istimewa, itulah mengapa dibukunya dia menjelaskan kalau semasa muda dia hampir tak mendapatkan bola. Show up. Kata yang dituliskan Pirlo di buku I Think Therefore I Play. Anak-anak seumuran Pirlo menunjukkan skill individu yang membuat Pirlo sebah dan hampir putus asa di sepakbola karena skillnya pas-pasan.
Akan tetapi nasib orang tak pernah ada yang tahu. Karir di usia seniornya bak sebuah wine. Ditempa di Brescia bersama Roberto Baggio dan Joseph Guardiola, Pirlo dewasa secara permainan. Visinya luas, meskipun skillnya masih jauh dibawah Ronaldinho atau pemain latin lainnya. Namun Pirlo tetaplah Pirlo. Dia tak pernah memperdulikan itu. Sang metronom lini tengah yang semasa juniornya diremehkan justru dewasa karena permainan sepakbola modern.
Inter Milan adalah tempat pendewasaan yang baik untuk Pirlo. Di bawah asuhan Roy Hudgson Pirlo dianggap habis. Bakatnya sama sekali tak keluar. Visi bermain Hudgson yang kick and rush tak cocok dengan permainan Pirlo yang elegan dan tenang. Karirnya habis dari peminjaman ke peminjaman.
Bagai permata bertemu dengan penyepuh yang pas. Itulah kalimat yang cocok diungkapkan untuk menggambarkan betapa beruntungnya AC Milan dan Carlo Ancelotti mendapatkan Pirlo. Berlian yang terbuang dari kontrakan sebelah dapat disapuh dengan sempurna oleh Ancelotti. Duetnya dengan Gennaro Ivan Gattuso di Milan menyulitkan musuh untuk menyerang.
Berlian itu makin mengilap dan dapat membawa Italia ke puncak panggung dunia di Jerman. Gelar dunia ke 4 bagi negeri Pizza juga tak jauh dari andil Pirlo sebagai metronom. Peran vitalnya didukung dengan Gattuso dan Totti sebagai Trequartista menyempurnakan Italia. Penyerang macam Alessandro Del Piero, Alberto Gilardino, Luca Toni hanya cukup sabar menanti serving plate dari Pirlo atau Totti.
Berlian tetaplah berlian, selalu ada makna kiasan untuk menggambarkan Pirlo. Tapi makna kiasan yang tepat adalah sihirnya. Semua tak akan menyangka bahwa bola sesulit apapun bisa ditaruh oleh Pirlo secara paripurna. Sihirnya memang membuat decak kagum. Bagaimana bisa pemain dengan skill biasa saja bisa mengirim bola seindah itu ke penyerang.
Namun Kisah penyihir dari Brescia itu berakhir. 2017 kaki Pirlo sudah dirasanya tak mampu lagi mengeluarkan sihir indah. Akan tetapi Brescia tak pernah kehilangan sihir.
Sihir itu sekarang berada pada kaki seorang Sandro Tonali. Permainannya elegan, instingnya tajam, visi bermainnya cukup luas. Musim lalu sihirnya sempat tertutup oleh kemolekan seorang Hakan Calhanoglu yang pindah kontrakan. Tapi pindahnya mas mas Turki tersebut menjadi berkah bagi Tonali. Dia bisa menyihir Serie A dengan paripurna. AC Milan dibawa Tonali ke posisi dua klasemen dengan sekalipun belum menelan kekalahan.
Tonali adalah representasi nyata seorang Andrea Pirlo. Namun Tonali adalah versi lengkap dari Pirlo. Skillnya diatas Pirlo, namun seorang Pirlo tetap tidak bisa dibandingkan dengan siapapun. Pirlo adalah berlian, permata dan juga wine di saat yang sama. We'll see sejauh mana Tonali akan mengikuti jejak Pirlo.
mengenai bagaimana olahraga populer di bangsa ini benar benar hanya bisa dimainkan oleh si Kaya. sejak awal kedatangannya, asa itu ada. Final AFF, lolos piala asia. fase yang seharusnya dinikmati bangsa ini. Fase yang seharusnya dibarengi dengan pembinaan. bila ada narasi “Panama saja lolos World Cup, kita lebih besar harusnya bisa” dengan dalih demikian, bolehkah saya beropini bahwa “bangsa kita lebih luas daripada Islandia dan bahkan Georgia, mengapa pemain kita begitu2 saja?” Panama bisa lolos World Cup dengan segala kerja kerasnya, betul. untuk negara yang dikelilingi garis pantai, iklim tropis dan juga budaya sepakbola tidak seperti Indonesia, saya pikir lolosnya Panama bagaikan cerita fiksi karya JK Rowling. Kelanjutan ceritanya ditunggu banyak orang Islandia. anomali dari bangsa Viking. dikala Finlandia pemainnya bermain di tier A eropa. Di finlandia ada Jari Litmanen, Sami Hyypia. Negara tersebut belum pernah tampil di putaran final piala dunia, tapi Islandia? ...
Comments
Post a Comment