Tengah malam ketika mayoritas masyarakat sudah terlelap tidur, kami yang masih terjaga sembari belajar bahasa asing pun tetiba diingatkan oleh notifikasi handphone kami. Sebuah ingatan bahwasannya salah satu klub terbapuk di Manchester akan bermain, Manchester United. Klub yang kami anggap aneh, karena apapun yang diramalkan di bursa judi selalu terjadi sebaliknya ketika tim itu bermain. Beruntungnya kami tak gemar berjudi, karena tidak menjanjikan apapun.
Tengah malam ketika kami hendak menarik selimut dan melaju ke kapuk island, tim yang setengah nanggung ini sudah mendekati sepak mula, apa boleh buat kami putuskan untuk menyaksikannya sambil menanti kebodohan apa yang akan pemain-pemain mahal itu lakukan di lapangan. Akan tetapi penantian kami akan kebodohan pemain mahal, sedikit terobati karena pemain belakang yang lama tak bermain akhirnya merumput juga. Phil Jones, setelah hampir dua tahun penantian akhirnya dia kembali. Beruntunglah Phil Jones pemain bola bukan personel Warna, karena hanya cukup dua tahun tidak sampai lima puluh tahun lagi.
Benar saja, keputusan kami menyaksikan Manchester Bapuk sebuah kesalahan besar, baru 20 menit kami meyaksikan pertandingan pemain mahal berlabel bintang salah menutup ruang. Disisi lain, pemain bergaji besar mengumpan pun tak mampu. Baik, kami tarik kesimpulan bahwasanya apa yang kami lihat tak lebih baik dari tim nasional Kamboja yang dinahkodai oleh Keisuke Honda. Kami menyaksikan dengan mata kepala kami sendiri barisan pemain itu nampak tak ada niat sama sekali ingin bermain malam itu. Terlihat mereka masih larut dengan pesta natal dan tahun baru yang kemeriahannya melebihi pawai suporter klub lokal. Apakah dipikiran pemain masih bergantung di pohon natal di ruang tamu rumah ? Atau mungkin mereka masih membayangkan bahwa sepiring ayam kalkun panggang dengan hidangan pendamping seperti salad dan segelas wine akan mereka tengguk? Atau yang lebih parah, para pemain sudah membayangkan akan membeli mobil apa di diskon musim dingin kali ini ?
Ya, begitulah Manchester Bapuk. Dulu... Ketika sang pembunuh bermuka bayi itu masih di sana, dia selalu menutupi kesalahan setiap pemain. Dia bertanggung jawab atas apa yang terjadi di lapangan. Banyak hal yang terjadi tak pernah benar-benar terungkap di media. Pemain muda seolah bermain seperti tak memikirkan apapun, mereka nampak murni bermain hanya karena suka dengan sepak bola. Akan tetapi semua nampak beda ketika sang profesor datang dan membimbing para cecunguk dari kota manchester. Belum lama ini ada istilah supir angkot mengemudikan mobil super. Hey, orang Pandir mana yang membuat istilah tersebut. Ngaku anda!.
Semenjak purna tugasnya Sir Alex Ferguson, Manchester yang seharusnya United jadi terpecah belah dan makin bapuk. Kala Moyes datang menjadi pelatih, ekspektasi tak benar-benar terjadi. Moyes gagal dengan segala drama dibelakangnya. Pembelian pemain yang tak dituruti klub, hingga pemecatan setelah 8 bulan bertugas. Namun benang yang kusut makin kusut kala meneer Belanda mengambil tugas. Louis Van Gaal datang dengan catatan peringkat 3 Piala Dunia 2014 di Brazil. Taji itu pun tak mempan ketika bertemu pemain di Manchester Butut.
Namun krisis era Van Gaal tak separah era setelah beliau, Jose Mourinho. Mou yang digadang-gadang akan sukses justru menemui benang yang makin kusut di Manchester. Kedatangan Paul Labile Pogba yang labil bagai pisau bermata dua. Disatu sisi gelandang muda Prancis tersebut dianggap bisa meningkatkan permainan Mou, akan tetapi di sisi lain tingkah polah ia yang merasa dirinya bintang menjadi tusukan tajam di karir Mourinho di Manchester. Mou hingga membuat pernyataan di media bahwa "Pogba layaknya racun di Manchester Butut". Ya bisa jadi pernyataan Mou ini benar adanya. Karena terkadang Pogba tak bisa keluar dari tekanan sulit dari musuh. Di sisi lain, Pogba lebih sering mengurusi soal gaya rambutnya ketimbang cara dia bermain. Selain itu tingkah dan polah dari sang agen yaitu Mino Raiola dengan drama kontraknya membuat Pogba lebih dekat menjadi racun ketimbang solusi.
Kedatang Bruno Fernandes di musim dingin 2020 sedikit memberikan kelegaan bagi lini tengah Manchester Bapuk. Peran Bruno sebagai metronom di lini tengah sedikitnya memberikan kreatifitas bagi penyerangan tim dan solusi bagi barisan tiga pemuda di lini depan yaitu Marcus Rashford, Anthony Martial serta Mason Greenwood. Kombinasi gol ketiga pemain cukup mengerikan saat awal kedatangan Bruno Fernandes. Akan tetapi, magis bruno musim ini tak didukung dengan penyerang Manchester Bapuk. Marcus Rashford sering salah mengambil keputusan, Anthony Martial lebih cocok untuk berjalan di catwalk ketimbang bermain sepak bola, serta Mason Greenwood yang entah kenapa hidupnya lebih kontroversial di luar lapangan ketimbang golnya di pertandingan.
Kedatangan Cristiano Ronaldo tidak serta merta membuat perubahan yang signifikan. Tentu kami tak akan melupan kontribusi Ronaldo yang membuat Manchester Bapuk lolos dari fase grup dengan status juara grup, akan tetapi setelah golnya ke gawang Villareal, Ronaldo hampir sebulan paceklik gol dan baru mencetak gol ke gawang Brighton tengah pekan lalu. Pada fase itu pula, Manchester bapuk sulit mendapatkan kemenangan meskipun musuhnya cenderung mudah untuk tim sekelas Manchester Bapuk. Banyak orang beranggapan bahwa Ronaldo menjadi sumber kehancuran Manchester Bapuk, akan tetapi melihat tingkah Marcus Rashford dan Mason Greenwood yang tidak bisa memberikan support kepada Ronaldo yang membuat Ronaldo kurang efektif.
Kala media menyebut bahwa Ole layak dijadikan kambing hitam atas kegagalan serta hasil minor di timnya, atau menyudutkan Mourinho karena kearoganannya membuat pemain tak nyaman, bahkan mungkin menuding Van Gaal akan permainan yang cenderung membosankan karena menekankan possesion ketimbang mencetak gol. Tentunya setelah melihat permainan Manchester Bapuk ditangan Ralf Rangnick tentu permasalahan bukan di pelatih, tapi justru ada di pemain. Bagaimana bisa pemain dengan gaji miliaran rupiah per pekan bermain tak lebih baik dari anak sekolah sepak bola. Benang merah di Kota Manchester akan semakin kusut apabila pola mengganti pelatih terus menerus dilakukan apabila dilakukan tanpa tahu apa yang salah dari tim tersebut.
Kesalahan saat transfer pemain, tingkah pemain yang lebih sibuk dengan kehidupan luar lapangan ketimbang bermain baik di lapangan, haha hihi di sosial media, dan hanya sedikit pemain yang bermain dengan hatinya untuk Manchester Bapuk. Istilah "Supir Angkot nyetir Ferrari" mungkin perlu ditinjau, apakah Ferrari tersebut dalam keadaan prima, atau bahkan onderdil dalam Ferrari itu sudah lapuk dan diganti dengan onderdil yang tidak bagus ?
Selama masih menuding pelatih sebagai biang kegagalan, niscaya Manchester Bapuk tak akan pernah berprestasi layaknya jaman SAF.
Comments
Post a Comment